Posted in Fiksi

Project Almanac


 

 

Malam sedang membawaku berjalan di atas roda mimpi yang berputar kala tidur lelapku. Ya, berjalan, bukan berlari. Karena aku ingin menikmati setiap alunan khayalan yang melintas di depanku. Sekelilingku putih, sangat putih tak berujung. Aku terus berjalan dan berjalan hingga putih di sekitarku semakin lama semakin redup ditelan kegelapan. Kemudian aku mendengar bunyi “Tik..tok..tik..tok..” Seperti suara mesin jam yang sedang mengayun jarum detiknya.

Aku juga melihat seperti ada sinar dari luar yang menembus ke dalam duniaku. Bola mataku bergerak ke kiri dan ke kanan. Tempat ini sepertinya tidak asing. Aku teliti lagi dan mencoba mengingat tempat ini. Lalu aku merasakan getaran pada pergelangan tanganku seiring dengan suara yang juga tidak asing. Ternyata aku terbangun. Sial. Atasanku menghubungiku melalui chip komunikasi pada gelang yang aku pasang di tanganku. Untuk apa beliau menghubungiku pagi-pagi buta begini. Nadanya keras, layaknya beliau sedang memimpin suatu peperangan.

Namaku Luis. Aku bekerja pada lembaga penelitian perkembangan bumi di kota yang penuh dengan penemuan teknologi-teknologi baru. Teknologi yang paling baru ditemukan adalah mesin waktu. Namun teknologi baru ini tidak dapat bebas digunakan. Pemerintah kota hanya memfasilitasinya untuk lembaga tempat aku bekerja. Lembaga ini dipimpin oleh Prof. John Titor, atasanku. Beliaulah penemu mesin waktu tersebut. Mesin waktu hasil penemuan Titor ini digunakan untuk meneliti sejarah agar benar-benar akurat.

Pagi-pagi buta itu, Titor memerintahkanku untuk segera datang ke kantor. Ada masalah besar dan benar-benar fatal katanya. Lantas aku beranjak dari tempat tidurku. Pelayan rumah yang berdiri di sampingku langsung membasuh wajahku dengan air, membersihkan mulutku, kemudian mengambilkan pakaian kerjaku. Aku di rumah bagaikan seorang raja yang sering memerintah seorang budak tanpa pernah menyakiti hati si budak. Karena pelayanku memang tak punya hati. Di dalam tubuhnya hanyalah rangkaian kabel yang dirancang untuk melayani perintah majikannya. Ya, sebuah robot. Aku menyebutnya E-maid.

Kini aku sudah siap bergegas ke kantor. Aku mengambil kendaraanku yang ku parkirkan di rak sepatu. Memang sepatulah kendaraanku. Hanya dengan memakainya lalu sepatu itu akan terhubung dengan otak dan mengantarnya ke tempat tujuan yang aku inginkan. Kendaraan berwujud sepatu itu ditemukan beberapa tahun lalu, sehingga sudah lama sekali kakiku tidak dihinggapi rasa lelah.

Jalanan sangat sepi, bulan masih tersenyum cerah. Lampu jalan masih berperan menghiasi kota. Sunyi sekali, sepertinya bencana pun tidak dapat mengganggu keheningan malam kota ini. Aku telah sampai di depan kantor. Sensor di atas pintu masuk kantor mendeteksi komposisi tubuhku. Memang tidak sembarang orang bisa memasuki kantor ini. Aku membuka pintu kantor. Seketika hening berubah ricuh. Suasana kantor kacau. Aku masih bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Titor memanggilku ke ruang penjelajahan waktu. Di sana sudah berkumpul lima rekan kerjaku yang memang biasa melaksanakan perintah perjalanan waktu untuk meneliti fosil manusia purba.

Titor lantas bekata, “Seseorang telah melakukan perjalanan waktu illegal! Ini sangat fatal! Ia telah merusak rangkaian cerita bumi. Kalian harus menyelamatkannya!”
Salah satu rekan kerjaku bertanya, “Merusak seperti apa, Mr. Titor?”
“Ia mengajarkan ilmu ilmiah kepada manusia purba itu sehingga mereka menjadi pintar. Mungkin kalian akan bertanya mengapa hal seperti itu dibilang fatal. Ini akan sangat berakibat buruk bagi generasi selanjutnya.” Jawabnya.
Tanpa menunggu lama, kami berenam duduk di bangku mesin untuk segera melakukan perjalanan ke zaman purba dalam misi penyelamatan rangkaian cerita bumi.

Sekelibat ruangan menjadi putih. Sepertinya aku telah memasuki jalur perjalanan ke sana. Perjalanan waktu ini mirip dengan perjalanan di atas roda mimpiku. Sekeliling putih, banyak alunan masa lalu melintas di hadapanku. Aku masih menikmati, hingga tiba-tiba aku terjatuh kencang ke dalam lubang hitam di antara hamparan putih. Aku sekarang berada di atas tanah, sekelilingku pepohonan rimbun yang sangat segar. Air sungai yang mengalir sangat jernih. Aku sangat menikmati keasrian tempat ini setiap kali aku mengunjunginya.

Rekan-rekanku sudah lebih dulu sampai di sini. Kata mereka, aku terlalu lama menikmati perjalananku. Lalu kami mendapat pesan dari Titor untuk memerintahkan kami bergerak menuju pemukiman orang purba. Tiba-tiba seorang purba lewat, kami terkejut. Bukan terkejut karena orang purba itu, tetapi terkejut dengan apa yang ditunggangi orang purba itu. Sepeda kayu! Mereka sudah menemukan roda sebelum bangsa sumeria menciptakannya.

Kami melanjutkan langkah kaki kami menuju pemukiman orang purba. Tercenganglah kami melihat perkembangan yang sangat pesat dibanding terakhir kali kami ke sini. Bangunan kayu dimana-mana, pakaian sudah mereka kenakan dan mereka sekarang tidak banyak berjalan kaki, melainkan menggunakan sepeda kayu itu. Seorang purba kemudian menghampiri kami, “Siapa kalian?” Tanya orang purba itu. Lebih terkagum lagi kami mendengar mereka sudah bisa berbahasa.
Aku kemudian malah balik bertanya, “Bagaimana kalian membuat semua ini? Dan dari mana kalian mempelajari bahasa kami?”
Ia menjawab, “Orang asing dengan penampilan seperti kalian telah mengajarkan bagaimana membuat semua benda ini dan juga mengajarkan bahasanya.”
Aku berpikir, mengapa Titor begitu marah dengan hal ini, bukankah seharusnya baik untuk masa depan jika orang purba saja sudah sepintar ini.

Kemudian kami melanjutkan langkah lagi menyusuri kota purba ini. Bukan ketakutan akan bahaya masa depan yang kami rasakan, malah kami merasa kagum dengan kepintaran mereka. Pemimpin kelompok kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke masa sekarang. Ia berkata bahwa hal ini akan membawa kebaikan untuk masa depan manusia yang lebih cerdas. Akhirnya kami kembali ke tempat semula kami, menunggangi mesin waktu lagi menuju ruang penjelajahan waktu di kantor dan bertemu John Titor. Pemimpin kelompok kami melaporkan kepada beliau, bahwa tidak ada bahaya apapun di zaman itu. Titor hanya tersenyum sinis dan berkata, “Kalian tidak mengerti. Baiklah, agar kalian mengerti aku akan mengirim kalian ke masa kanak-kanak kalian masing-masing.”

Aku berjelajah lagi dengan mesin waktu itu. Kini tempat tujuannya adalah masa kanak-kanak kami masing-masing. Aku telah sampai. Aku datang ke masa kecilku ketika aku bersama Ibuku sedang berada di sebuah pasar tradisional. Aku melihat sekeliling, tidak ada yang berubah dari apa yang dahulu aku lihat. Masih sama persis. Namun lama-kelamaan aku menyadari ada yang hilang. Aku memejamkan mata mencari sesuatu yang hilang itu.

Suara!! Mengapa tidak ada suara langkah kaki di sini? Kemudian aku menoleh ke bawah. Terkejutlah aku melihat orang-orang di sini sudah menggunakan kendaraan sepatu yang baru beberapa tahun digunakan di masa sekarang! Sepatu-sepatu yang mereka gunakan pun sudah berbagai macam bentuknya. Hebat! ternyata ilmu pengetahuan berkembang lebih cepat. Lalu apa yang salah? Mengapa Titor begitu serius dengan hal ini? Padahal beliau juga pernah melakukan penjelajahan waktu ilegal ke tahun 2001 untuk memberi tahu orangtua beliau bahwa akan ada bencana melanda tempat tinggal mereka. Justru malah menjadi baik ke depannya karena orangtua Titor akhirnya selamat.

Aku masih tidak mengerti mengapa Titor marah dengan apa yang dilakukan oleh penjelajah waktu ilegal itu dan mengapa pemerintah kota menghukum Titor dengan melarangnya menggunakan fasilitas mesin waktu setelah mereka mendapati Titor melakukan penjelajahan waktu ilegal. Saat ini aku masih terkagum dengan bentuk-bentuk kendaraan sepatu yang orang-orang itu gunakan. Kemudian aku pulang ke rumah bersama Ibu. Aku melepas sepatuku dan tiba-tiba, “Ah!!!” Mengapa aku jatuh? Aku mencoba berdiri kembali, dan terjatuh lagi. Aku mencobanya sekali lagi, masih terjatuh! Apa yang salah? Mengapa aku tidak dapat berdiri tanpa sepatuku? Aku mencoba menggerakkan jari-jari kakiku, tidak bisa juga! Aku menangis.

Kemudian Ibu menghampiriku dari dalam rumah. Aku melihat, Ibu menggunakan sepatunya di dalam rumah! Lantas beliau berkata kepadaku, “Mengapa kamu melepas sepatumu, Luis sayang? Kita sudah tidak bisa menggunakan kaki kita lagi. Saraf-sarafnya tidak dapat bekerja lagi karena tidak pernah digunakan. Kamu pun tidak pernah Ibu ajarkan untuk berjalan, Luis. Dan memangnya untuk apa kita melelahkan kaki kita untuk melangkah jika kita bisa pergi tanpa harus melangkah? Kenakan lagi sepatumu, nak.”

Aku kembali lagi ke masa sekarang. Titor tersenyum sinis lagi dan berkata, “Sekarang apakah kalian sudah mengerti mengapa aku semarah ini? Apa yang seharusnya terjadi biarlah terjadi sesuai dengan skenario yang telah dibuat bumi. Janganlah kita merusak rangakaian ceritanya!”

Seketika tanganku gemetar, kedua mata terbuka lebar, dan tubuh berkeringat dingin atas apa yang aku baru sadari. Bahwa sebenarnya aku dan orang-orang masa sekarang tertawa berbahagia di dalam suatu kebodohan dengan dimanjakan oleh hasil kecerdasan otak kami sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s