Posted in Love Actually

Hembusan Terakhir


 

https://i0.wp.com/onehdwallpaper.com/wp-content/uploads/2015/08/Dandelion-Flowers-in-Sunset-Beautiful-View.jpg

 

 

Suasana hari itu sangat dingin dan terguyur hujan. Gumpalan awan yang gelap menyelimuti langit yang semenjak tadi meneteskan air yang tak terkira jumlahnya. Sepasang orangtua dengan seorang anak laki-lakinya datang untuk melihat-lihat. Entah apa yang ada di pikiran mereka, sehingga mereka masih sudi datang ke sebuah museum kecil di tengah kota. Mereka adalah pengunjung pertama hari itu, dan bukan tidak mungkin satu-satunya pengunjung hari itu -museum tersebut memang tidak pernah seramai museum lain.

Di depan meja seperti loket, berdirilah Arthur yang siap menerima pengunjungnya tersebut. Ia menyungging senyum kepada keluarga kecil itu. Mereka tampak ragu-ragu untuk memasuki rumah tersebut, saling menatap satu sama lain sambil bertanya dalam hati -Apakah kita masuk di tempat yang benar?- di depan pintu rumah tersebut. Mereka celingak-celinguk menatap ruang kedatangan yang serasa aneh. Ruangan tersebut tampak remang-remang kekurangan cahaya.

Aksen plafon di atasnya bergaya kolonial klasik menambah kemuraman ruangan tersebut, persis seperti rumah duka. Melihat tatapan kedua orangtua tersebut, Arthur tetap santai. Ia sudah terbiasa melihat raut muka ratusan pengunjung sebelum mereka yang penuh dengan keragu-raguan. Hanya anaknya yang tampil tanpa beban, menggantungkan payung kecilnya ke tempat yang telah disediakan khusus untuk payung anak-anak tanpa ada rasa canggung.

“Selamat siang. Nama saya Dr. Arthur. Senang sekali Anda bisa mampir di museum ini,” senyumnya melebar untuk mengurangi rasa canggung para pengunjungnya, namun tampaknya malah memperburuk keadaan. Arthur yang tubuhnya kurus dan tingginya hampir dua meter, mirip seperti peraga tengkorak yang berjalan. Kulit wajah dan tangannya tampak keriput dan tipis serta kulit pelipisnya terlipat ke dalam, menampakkan tulang tengkoraknya yang pastinya sudah tergerus usia. Usianya hampir delapan puluh tahun. Sang ayah tersentak dari kecanggungannya.

“Oh, selamat siang juga, Pak. Maaf bila mengganggu,” kata sang ayah.
“Tidak sama sekali.”
“Hmm, syukurlah kalau begitu,” nada bicara sang ayah sangat dibuat-buat. “Jadi, apakah kami harus…” pembicaraannya terputus. Gestur tubuhnya begitu kebingungan. Ia tak bisa merangkai kalimat yang tepat -apakah dia harus basa-basi dahulu atau harus begini- pikirannya kacau. Akhirnya sang ibu harus turun tangan menghadapinya.
“Ku dengar ini adalah museum kesenian, benarkah?”
“Sepertinya Anda salah dengar, Nyonya,” kata Arthur. Dahi sang ibu tampak berkerut seolah terasa asing dipanggil nyonya. “Ini bukan museum kesenian, ini adalah museum kesunyian.”

Sepasang kedua orangtua itu saling berpandangan aneh satu sama lain.
“Oh, berarti tadi kami salah dengar,” ujar sang ibu yang masih ragu.
“Ayolah, Yah, Bu! Aku ingin melihat-lihat.” Rengekan anak tersebut memecah keheningan dari ketiga orang dewasa tersebut. Tangan sang anak menarik kuat jaket sang ayah agar mengikutinya. “Silakan,” jemari Arthur yang ramping dan panjang mengarah ke ruangan berikutnya, mempersilakan pengunjungnya tersebut untuk sekadar melihat-lihat. “Dengan sepenuh hati saya akan memandu kalian.”

Setiap jendela di sana tertutupi tirai yang tergerai tertiup angin hujan di luar. Dinding-dinding di sekitarnya dilapisi kayu mahoni yang gelap, menambah kesuraman museum ini. Semerbak wewangian bunga melati yang menusuk hidung membuat setiap bulu kuduk pengunjung merinding. Di atas setiap meja kecil yang tingginya seukuran pinggang orang dewasa tersebut, ada sebuah toples kaca yang terlihat jernih karena rutin dibersihkan. Setiap toples kaca pameran diterangi oleh lampu neon kecil yang memusat dan sengaja difokuskan di tiap-tiap objek pameran tersebut. Namun karena pencahayaan lampu tersebut sangat menyilaukan, suasana ruangan di sekitarnya menjadi semakin gelap.

Setiap toples kaca tersebut ditemani oleh sebentuk stethoscope dengan diafragma yang dilekatkan langsung dengan lem bening ke permukaan kaca. Sedangkan bagian yang digunakan untuk mendengar tergeletak begitu saja, menunggu pelanggan. Sang anak berjalan cepat menuju objek pameran yang pertama, diikuti kedua orangtuanya, lalu Arthur. Sebuah toples kaca yang berdiri menyambut tamu itu, membuat mata sang anak tak berkedip melihatnya.

“Kosong,” celetuk sang anak. Matanya masih melihat di sekeliling toples itu, mensurvei seisi ruangan. “Tidak ada apa pun di dalamnya.”
“Tidak sekosong yang kau bayangkan,” kata Arthur. “Setiap toples kaca yang kau lihat telah disegel erat agar tidak ada udara yang masuk atau ke luar dari toples itu. Di dalam toples kaca tersebut berisi hembusan napas terakhir seseorang. Saya memiliki koleksi hembusan terakhir terbesar di Indonesia, sekitar lima puluh toples. Bahkan beberapa dari toples di sini menampung hembusan terakhir dari orang-orang terkenal.”

Mendengar ucapan Arthur, sang ibu tertawa geli: tertawa sungguhan. Mulutnya dipaksa ditutup oleh kedua tangannya agar tak ada suara yang ke luar, namun tetap saja terdengar oleh Arthur. Arthur hanya tersenyum. Ia sudah terbiasa menanggapi segala macam reaksi pengunjung, karena sudah bertahun-tahun dia merawat koleksi uniknya tersebut. Berbeda dengan kedua orangtuanya, sang anak malah semakin tertarik dengan apa yang ada di dalamnya. Matanya nanar menatap permukaan kaca yang bening itu. Dia mengambil alat serupa stethoscope, namun bukan.

“Ini apa?”
“Namanya deathoscope,” kata Arthur. “Alat yang sangat sensitif. Jika kau mau menggunakannya, silakan. Maka kau akan mendengar hembusan terakhir Amrozi bin Nurhasyim.”
“Apakah dia orang terkenal?” tanya sang anak. Arthur mengangguk.

“Bisa jadi dia adalah seorang artis. Meskipun dia seorang penjahat, namun ia lumayan terkenal. Dua puluh tiga tahun yang lalu, ia dihukum mati. Saya sendiri yang mengautopsi dan menerbitkan sertifikat kematiannya. Maka dari itu hembusan terakhirnya mendapatkan tempat kehormatan di sini.”
“Perbuatan apa yang dilakukannya?” tanya sang anak.
“Bom besar,” kata Arthur.

“Ia melakukan pengeboman di Bali tahun 2002. Ratusan jiwa orang melayang karenanya. Dia tak pernah menunjukkan rasa bersalah ketika di pengadilan. Ia disebut sebagai ‘The Smilling Assasin’.” Arthur berjongkok agar tingginya sama dengan sang anak. “Dengarkan saja kalau mau.” Sang anak menggunakan deathoscope itu sambil memejamkan mata. Suasananya sangat hening dan ketiga orang dewasa itu menatap sang anak dengan khawatir.

“Ada berbagai macam keheningan di dalam toples ini. Hening desiran angin di sebuah lapangan, hening setelah tembakan peluru. Telingamu butuh penyesuaian sejenak. Dalam sekejap, kau akan mendengar hembusan napas terakhir Amrozi bin Nurhasyim yang unik,” bisik Arthur. Sang anak membuka lebar matanya tanda rasa senang. Ia meletakkan kembali deathoscope ke tempat semula. Ia tersenyum simpul kepada Arthur yang ada di sebelahnya.

“Seperti orang yang tersedak, namun sangat pendek. Seperti…” Ia menarik napas pendek dan berlagak seperti orang yang tersedak. Arthur sangat bangga terhadapnya, lalu bangkit berdiri.
Sang ibu yang dari tadi menahan tawanya, sekarang mulai tenang meskipun tetesan air mata tawanya masih membasahi. “Anda seorang dokter, kan?”
“Sudah pensiun,” jawab Arthur. “Bukankah hal ini melawan teori ilmu pengetahuan?” tanya sang ibu menyindir.

“Walaupun anda sanggup menyimpan udara terakhir yang dihembuskan seseorang, tetap saja zat tersebut tidak mengeluarkan suara.”
“Betul,” jawab Arthur menyetujui. “Tapi bukan suara yang tersimpan, namun kesunyian. Setiap orang memiliki jenis kesunyian yang berbeda. Bahkan suami anda juga memiliki kesunyian yang hanya anda yang sanggup mendengarnya.”

“Bagaimana anda mengumpulkan napas-napas ini?” Sang ayah menyela pembicaraan Arthur dengan sang ibu. Arthur berbalik menghadap sang ayah yang sejak tadi menatap sebuah toples si depannya. “Dengan alat aspirator,” ujar Arthur. “Bentuknya seperti pompa kecil yang digunakan untuk menarik hembusan udara dari tubuh seseorang lalu memasukkannya ke dalam wadah vacum. Aku selalu membawanya di dalam tas kerja saya, siapa tahu dibutuhkan. Alat ini dan deathoscope ku dapatkan dari seorang dokter dari Inggris, dan dia adalah guru saya. Sehingga saya menjadi pelopor pengoleksi hembusan napas terakhir di Indonesia.”

“Di sini tertulis Chairil Anwar. Wah, anda memiliki koleksi napas terakhirnya. Dulu waktu aku SD, aku disuruh menghafalkan salah satu puisinya yang berjudul ‘Deru Campur Debu’,” kata sang ayah. Arthur hanya tersenyum melihat sang ayah yang mulai tertarik dengan koleksinya. Namun tatapan Arthur masih tertegun ke arah sang ibu yang menatap sebuah toples kaca di bagian ruangan yang lebih dalam.

“Wiwin Sugiarti,” kata sang ibu membaca kartu yang terletak di depan sebuah toples. “Coba ku tebak, pasti dia seorang ibu rumah tangga.”
“Tidak,” kata Arthur. “Saya belum pernah mengkoleksi hembusan terakhir seorang ibu rumah tangga, meskipun saya sudah menyimpan hembusan terakhir macam-macam orang, mulai dari mahasiswa, anggota DPR, dan sastrawan. Dia adalah seorang sekretaris dari sebuah perusahaan terkenal di Jakarta, yang meninggal di rumah sakit karena luka bakar yang dideritanya.”
“Luka bakar karena apa?” tanya sang ibu.

“Pesawat jet pribadi yang ditumpanginya beserta seorang direktur BUMN terjatuh di hutan belantara Kalimantan. Hanya dia yang selamat dari kecelakaan, meskipun hanya sementara. Ia dirawat di ICU selama lima hari sebelum akhirnya meninggal. Saat kejadian itu, saya masih mengajar medis dan saya mengajak murid-murid saya untuk sekadar memuaskan rasa penasaran saja. Jarang sekali orang yang selamat setelah menderita luka bakar separah itu. Kulitnya meleleh dan menyatu dengan kulit yang lain. Dan saat saya mengunjunginya, dia meninggal dunia. Beruntung saya membawa alat aspirator.”

“Aku tidak pernah percaya perkataan anda. Tempat ini penuh dengan kebohongan dan konyol,” sindir sang ibu. Lalu sang ibu menggunakan alat deathoscope yang terletak di depan toples tersebut. Arthur hanya tersenyum melihat sang ibu yang bersiap mendengarkan toples tersebut. “Sebaiknya anda melihat koleksi yang lain terlebih dahulu. Beberapa pengunjung tidak begitu tertarik mengetahui ekspresi Wiwin,” kata Arthur mengingatkan.

Namun sang ibu tak menghiraukan perkataan Arthur. Sang ibu berusaha mendengarkan suara yang ada di dalam toples itu. Namun tiba-tiba ia mengambil langkah mundur. Sontak dengan gerakan cepat Arthur menahan toples tersebut agar tidak jatuh. Kemudian wanita tersebut melepas alat pendengar tersebut dengan terburu-buru, kikuk.

“W. S. Rendra,” kata sang ayah yang mengagumi toples kaca di sana bersama sang anak. “Anda benar-benar antusias mengumpulkan hembusan terakhir para sastrawan, ya?”
“Aku tidak suka tempat ini,” kata sang ibu. Pandangan wanita itu mendadak tidak fokus. Ia kebingungan, meletakkan kedua tangannya di leher.
“Sayang?” panggil suaminya. Pria itu mendekatinya karena khawatir. “Kau mau pergi? Tapi kita baru saja masuk.” Sang ibu langsung menatap tajam Arthur.
“Kau bukan orang baik-baik. Kau sama saja seperti pencuri kuburan!” bentak sang ibu kepada Arthur. Arthur sudah terbiasa dengan berbagai reaksi para pengunjungnya. Suaminya berusaha menenangkan istrinya lalu mengajakknya ke ruang kedatangan.

“Ku harap anda mau mengisi buku tamu, Pak,” kata Arthur. Laki-laki tua nan ringkih itu mendampingi mereka menuju ruang kedatangan. Sang anak bermuka pahit sambil menyelipkan kedua tangannya di saku. Lalu ia menendang sebuah tas lusuh di samping wadah payung. Karena sadar telah menendang sesuatu, ia melihat tas itu dengan tergopoh-gopoh sambil meyakinkan diri bahwa isi tas itu tak apa-apa. Ia melihat alat aspirator yang bentuknya seperti termos tembaga, dengan gelang karet dan masker wajah plastik yang tersangkut di ujung alat tersebut.

“Apakah kau bisa menunggu terlebih dahulu di mobil? Ersa dan aku ingin melihat-lihat lebih lama,” kata sang ayah menenangkan. “Aku tak peduli! Kita semua harus pergi dari sini! Aku akan pergi dulu ke mobil,” kata sang ibu menundukkan kepala, menarik diri. “Jangan lama-lama.”
“Tunggu,” kata sang ayah. “Tunggu kami.”

Wanita itu tak mengindahkan panggilan suaminya dan segera ke luar dari museum itu, membiarkan pintu di belakangnya terbuka lebar. Ia menuruni anak tangga yang terbuat dari batu granit menuju trotoar. Tubuhnya sedikit linglung saat ia melangkah menyeberangi jalan. Wajahnya menatap langsung ke mobilnya yang ada di seberang jalan. Arthur baru saja membalikkan tubuh untuk mengambil buku tamu -ia pikir mungkin tamunya masih ingin untuk mengisi.

Lalu ia mendengar suara rem berdecit dan tubrukan logam, seperti sebuah mobil yang melaju cepat menabrak sebatang pohon, hanya saja itu bukan sebatang pohon. Sang ayah berteriak berkali-kali. Arthur memutar tubuh tepat pada saat sang ayah berlari menuruni anak tangga hingga terjatuh. Sebuah mobil Toyota berwarna perak berkelok dengan sudut aneh di jalan, asap membumbung dari kap mobil yang ringsek. Pintu pengemudi terbuka, dan pengemudi itu berdiri di tengah jalan.

Telinga Arthur berdenging tajam, tapi ia masih bisa mendengar ucapan sang pengemudi yang berkata, “Dia bahkan tidak melihat ke kiri dan kanan, langsung jalan di tengah lalu lintas. Ya Tuhan, aku harus berbuat apa?” Sang ayah tak mendengarkan ucapan siapa-siapa. Ia berlutut di tengah jalan, memeluk tubuh istrinya. Sang anak masih berdiri di ruang kedatangan, terpaku di sana.

“Dokter!” teriak sang ayah. “Tolonglah! Dokter!” Ia menatap ke arah Arthur.

Arthur berhenti untuk mengambil jaket dan payungnya dari gantungan. Saat itu bulan Februari, angin bertiup kencang dan hujan pun tak kunjung reda. Ia tak mau kedinginan. Ia bisa hidup selama ini karena ia rajin menjaga kondisi tubuhnya. Arthur menepuk lembut bahu sang anak sambil melangkah ke luar. Ia baru saja menuruni anak tangga ketika sang anak memanggilnya.

“Dokter,” kata sang anak dengan gugup. Arthur memutar tubuhnya ke belakang, ke arah sang anak.
“Jangan lupa membawa tas ini,” kata sang anak. “Mungkin Anda membutuhkan perangkat kedokteran Anda.”
Arthur tersenyum kecil, menaiki tangga dan mengambil tas tersebut dari tangan sang anak.
“Terima kasih,” katanya. “Kau mungkin benar.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s