Posted in Fiksi

Conseils Mort


 

 

Hari ini Grondey Express mulai berdecit lagi. Suara decitan itu hampir terdengar ke seluruh penjuru kereta. Darwin, Elizateh dan Edgar berada di kompartemen yang sama. Darwin dan Elizabeth tengah mengobrol bersama. Dan hal itu membuat Edgar merasa bosan dan jengkel.

“Darwin, coba tebak, mengapa waktu itu kita hanya berkeliling di sekitar hutan terus menerus, itu karena kita sudah sampai!” ucap Elizabeth riang ketika sesuatu terpikirkannya.

“Oh, yeah. Kau benar, Elizabeth,” ucap Darwin sedikit malas.

“Darwin, lihat! Aku sedang membaca beberapa jenis makhluk mitologi kuno yang katanya ada di dunia sekitar Grondey. Aku juga sedang membaca beberapa penyihir legendaris. Dan di sini ada Ayahmu, Darwin!” ucap Elizabeth sambil menunjuk salah satu foto di buku tebal yang sekarang tengah dipegangnya.

“Coba kulihat! Tunggu, ini tidak mirip de-”

“Hy, Darwin, Elizabeth, Edgar!” sapa Polly menyela pembicaraan Darwin.

“Hallo, Polly, eh, hallo juga Bert,” sapa Elizabeth membalasnya.

“Oh, ya! Kau tahu, ada murid baru di kompartemen sebelah. Aku tak pernah berharap bisa satu hotel dengannya,” bisik Bert pada kalimat terakhir.

“Ya, dia hampir mirip seperti Dustin, dia membawa dua koper dan sebuah tas besar yang ketiga-tiganya penuh! Mirip!” kata Polly antusias.

“Hay semua!” sapa Dustin tiba-tiba.

“Kurasa dia datang,” bisik Polly ke telinga Bert.

“Bagaimana musim panas kalian?” tanya Dustin mencoba ramah.

“Ya, tidak buruk,” balas Edgar.

“Kurasa aku buruk,” jawab Darwin.

“Musim panasku tak sama sekali buruk,” kata Elizabeth riang.

Dustin tersenyum dan berjalan sambil menutup pintu kompartemen kereta. Dia mungkin hanya ingin menyapa beberapa orang yang dia kenal. Agar terlihat lebih ramah. Begitu juga Bert dan Polly, mereka kembali ke kompartemenya tepat ketika Dustin datang. Dan tanpa berkata apa-apa tentang murid baru yang menurut mereka mirip sekali dengan Dustin ketika pertama kali datang ke Grondey.

“Darwin, aku sudah tak sabar dengan Minimolly kita! Kapan, sih mau ada?” tanya Edgar tak sabar akan kedatangan Minimollynya.

“Minimollymu pasti akan sangat buruk! Lihat saja dirimu!” ucap Elizabeth sambil membaca beberapa keterangan tentang Minomolly. “Minimolly bisa disebut juga dengan kembaran kita. Dia selalu menyesuaikan diri dengan Tuannya. Jika dia malas sepertimu, maka Minimolly itu juga akan malas,” lanjut Elizabeth sedikit menyindir pada Edgar.

“Ya, jika luar biasa seperti Darwin pasti akan luar biasa juga, kan?” tanya Edgar mengerling ke arah Darwin.

“Ya, kurasa kau benar,” balas Elizabeth malas.

Darwin sedikit membereskan barang-barangnya dan buku-buku yang akan dia pakai di tahun keduanya ini dengan tangannya sendiri. Sementara Elizabeth berusaha membaca beberapa mantra untuk merapikan barang-barang secara langsung. Dan Edgar, dia hanya membiarkan barang-barangnya tergeletak lemah di dalam kopernya dan tak sama sekali menyentuhnya.

“Waw, namanya Verby Russle. Dia salah satu anak menteri,” ucap Bert sambil duduk di atas kasurnya.

“Tapi dia terlihat sangat bodoh, seperti orang idiot,” kata Polly mengejek.

“Kau jangan mencela!” ucap Elizabeth sambil berjalan menuruni tangga.

“Tapi itu fakta!” kata Bert antusias.

“Ya, dia benar. Coba saja, Clawfrintclass adalah kelas rendah! Seharusnya anak menteri masuk ke kelas tinggi seperti, Agreniaclass, Drawsenclass, atau Elyasclass. Itu cukup bagus, tiga kelas terbaik,” kata Polly santai.

“Ya, tadinya Drawsenclass juga kelas rendahan, lho! Setelah Darwin datang, baru Drawsenclass menjadi kelas tinggi. Siapa tahu Verby juga bisa membuat Clawfrintclass jadi kelas tinggi,” kata Elizabeth antusias. Bert terdiam. Sementara Polly hanya berdiri saja.

“Sudah! Jangan diam di sana, lebih baik ajak saja Polly untuk belajar sapu terbang. Aku sangat prihatin jika melihatnya wajahnya ketika dimarahi Prof. Lopez!” kata Elizabeth menahan tawa.

“Baiklah! Mengapa juga aku begitu bodoh naik sapu? Padahal mereka semua bilang itu pelajaran paling mudah. Dustin, anak lugu itu juga bisa! Lalu mengapa hanya aku saja yang tak bisa mengendarainya?! Arrghh! Bodoh, dasar bodoh!” geram Polly gusar.

Darwin nyengir melihat Polly yang sampai segitu marahnya karena tak bisa naik sapu. Sementara Edgar terlihat sangat bersantai sekali di atas kasurnya sambil menyilangkan kedua tangannya dan meluruskan kaki panjangnya di atas kasur berseprai putih. Dan Elizabeth terlihat terkekeh sambil memegang pegangan tangga.

“Aku sangat prihatin padanya. Entah mengapa dia begitu bodoh bersapu terbang. Padahal pelajaran itu cetek banget,” kata Edgar sambil mengusap rambut coklat tuanya yang sedikit berminyak. Elizabeth dan Darwin mengerling ke arahnya sambil sedikit tertawa.

“Apa dia bodoh?” tanya Edgar.

“Kurasa tidak, dia cukup baik mengucap dan mempraktekan mantra,” kata Darwin sambil menarik sebuah buku dari atas laci mejanya.

“Ya, dia juga cukup pandai menjaili orang lain,” kata Elizabeth dan duduk di atas kasur Darwin.

“Tapi dia sangat bodoh dalam hal terbang,” komentar Edgar.

Beberapa bulan terakhir ini jadwal sekolah sangat penuh. Sampai-sampai Darwin tak punya banyak waktu untuk bersantai dan menyimpan bukunya. Menurut Elizabeth, ini adalah saat-saat paling menyenangkan baginya. Tak ada yang lebih baik selain adanya pelajaran tambahan. Padahal ini adalah saat-saat paling buruk bagi Darwin dan Edgar. Mereka jadi tak bisa lebih banyak bermain ketika istirahat karena terlalu banyaknya PR yang harus dikerjakan. Mereka juga harus punya perkamen tambahan dan membelinya di Zongokertomark – semacam pasar -. Dan sangat beruntung sekali daerah itu tak terlalu jauh dari Grondey.

Darwin dan Edgar biasanya membeli kebutuhan sekolah di Porkstil. Di sana tempat paling lengkap tentang alat-alat sekolah. Juga Mr. Collage, penjaga toko tersebut sangat ramah sekali pada mereka berdua. Apalagi setelah tahu bahwa Darwin adalah anak dari salah satu penyihir legendaris dan cucu dari kepala sekolah Grondey. Dia jadi selalu bersikap baik pada Edgar dan Darwin.

“Aaaaaa!” teriak Elizabeth.

Semua murid perempuan maupun laki-laki langsung menyapa teriakan Elizabeth yang ada di lantai atas kamar laki-laki. Terlihat di sana Elizabeth tengah berdiri di atas kasurnya dengan sedikit bercak darah di atas kasurnya. Dan juga ada sedikit darah di bagian belakang piamanya. Elizabeth sedikit menarik piamanya ke atas. Dia tampak menangis. Tiba-tiba semua anak yang ada di sana menertawakan Elizabeth yang tampak bodoh.

“Arrgghh!” geram Elizabeth dan langsung berlari menuju toilet ketika semua mata tertuju padanya.

Darwin dan Edgar persis melihat Elizabeth berlari dengan wajah yang kusam dan berang. Memang mereka berdua yang sedang ada di kamar sendiri. Dan bagitu terkejutnya Edgar ketika melihat piama Elizabeth bagian belakang terdapat darah.

“Dia haid, hahah!” kata Edgar terkekeh dan menertawakan Elizabeth.

“Sudah tak asing lagi, dia sudah berumur tiga belas tahun,” kata Darwin.

“Ya, sepertinya dia mulai menyukai seseorang. Yaitu, aku!” kata Edgar percaya diri.

Hari ini Elizabeth tak masuk ke kelas. Mungkin dia hanya berdiam diri di kamarnya atau menangis di toilet. Dia mungkin merasa malu akan hal itu. Padahal itu hal normal dan tak perlu dipikirkannya. Dia hanya malu karena telah berteriak dan dilihat oleh dua puluh anak Drawsenclass. Karena tiga di antaranya adalah Elizabeth, Darwin dan Edgar. Dan yang paling buruk baginya, Polly dan Bert! Dia yakin, pasti dirinya akan menjadi buah bibir di sekolah.

“Aku sedikit kasihan pada Elizabeth, dia pasti malu,” kata Edgar cemas ketika pelajaran mantra telah selesai.

“Ya, padahal tak perlu dipermasalahkan saja,” kata Darwin.

“Hey bodoh!” sapa seorang pria jangkung berambut hitam dan berkacamata pada Edgar.

Edgar mencibir sambil menatapnya sinis dan menyumpah-nyumpahinya. Dia seperti sangat membenci orang itu. Orang yang waktu kelas satu mengajak Drawsenclass berkeliling. Pria yang cukup tampan.

“Siapa dia?” tanya Darwin penasaran.

“Dia? Cowok gila itu? Sebenarnya aku tak mau mengakui ini, namanya Edmund, dia Kakakku, dia kelas empat. Mentang-mentang jadi murid kesayangan dari kelas tiga, dia jadi suka berlagak sok padaku. Padahal aku yakin, dia tak lebih baik darimu,” kata Edgar sambil memasang wajah geram, “dia gila, aku selalu dimarahinya jika mendapat nilai yang kurang baik. Padahal itu bukan salahku, aku juga yakin, aku bisa lebih baik daripada dia. Bahkan seluruh sekolah telah mengetahui aku, kau dan Elizabeth oleh pencarian jamur dan menyelamatkan Kepala Sekolah,” kata Edgar.

“Tapi mengapa rambut kalian berbeda?” tanya Darwin.

“Mungkin karena aku mirip Ayah, rambut Ayahku coklat tua. Sementara dia sama seperti Ibuku, cerewet, sombong, argghhh!” kata Edgar.

Darwin hanya terdiam. Edmund, dia tak pernah menyangka seperti itu. Dulu dia menyukai Edmund, tampaknya dia terlalu bersikap buruk pada adiknya. Dia juga kadang tak suka saat Billy dan Nelly melemparinya dengan saus tomat. Itu membuatnya sakit hati.

“Omong-omong Elizabeth kenapa, ya? Kita harus lihat dia dulu,” kata Darwin lagi cemas akan sahabatnya.

Mereka berdua segera masuk ke hotel. Hari ini istirahat sedikit panjang. Dan kebetulan sekali tak ada PR yang selalu menemani mereka selama ini. Bagaimana pun juga, mereka harus mengetahui keadaan sahabatnya. Selama setahun ini mereka banyak dibantu oleh Elizabeth.

“Hy Elizabeth!” sapa Darwin ketika Elizabeth sedang duduk murung di atas kasurnya.

“Eh, hallo Darwin, Edgar! Terimakasih mau menemuiku,” kata Elizabeth menyeka air matanya.

“Kau tak usah memikirkan hal tadi,” tenang Edgar sambil duduk di sampingnya.

“Terimakasih, Edgar,” kata Elizabeth.

“Hari ini pelajaran mantra halaman 76. Hanya satu pembelajaran hari ini. Tadi Prof. Robert bilang ramalan tak akan masuk. Dan Prof. Lopez juga bilang kalau sapu terbang hari ini tak akan belajar juga,” kata Darwin.

“Dan aku yakin Polly bahagia,” lanjut Edgar.

Elizabeth pun tersenyum dan langsung membawa banyak buku entah ke mana. Darwin dan Edgar hanya menatapnya.

“Si Eugene-penjaga sekolah-nggak ada?” tanya Edgar.

“Entah, dia paling di gudang. Biasa, cuma di sana istirahatnya. Kalau tiap hari ngepel aula depan, kan bosan. Dia juga paling ke ruang bawah tanah, kamarnya. Sebenarnya ada apa, sih, di sana? Mr. Eugene rahasia banget,” kata Darwin dan berjalan menuruni tangga kayu.

“Kita bisa keluar, dong! Di depan halaman sekolah kayaknya asyik banget!” kata Edgar antusias.

Mereka pun segera pergi untuk menuju ke halaman depan. Mumpung Mr. Eugene tak ada, waktu ini harus digunakan sebaik-baiknya. Berhubung akhir-akhir ini pelajaran penuh terus menerus setiap hari. Sampai hari libur pun mereka berkutat pada pena bulu angsa dan perkamen mereka. Jadi pada waktu emas seperti ini sangat sayang untuk disia-siakan.

“Aku dapat! Ayo bawa, cepat!” teriak Polly sambil memanggul benda berwarna coklat ke luar sekolah.

Bert ada di belakang Polly dan Dustin juga Verby mengejar-ngejar mereka. Edgar dan Darwin tampak mengernyit.

“Ada apa?” kata Darwin.

“Kita kejar saja, ayo!” ucap Edgar lalu ikut mengejar Bert dan tiga orang lain di sana.

Mereka terus berlari ke luar sekolah. Bert langsung meletakan papan coklat itu di atas rumput. Dan terlihat di sana hanya ada secarik perkamen, sebuah tongkat sihir dan papan coklat yang di tengahnya ada tulisan ‘play’. Bert sedikit kebingungan menatapnya.

“Verby, darimana kamu dapat ini? Keren banget permainannya!” kata Bert melihat setiap sudut dari benda itu.

“Jangan! Kembalikan benda itu!” kata Verby.

“Tunggu, Bert!” kata Elizabeth tiba-tiba. “jangan sentuh benda itu! Beberapa benda hitam bisa berbahaya untuk kita!” kata Elizabeth.

“Aku sentuh!” ucapnya sambil menyentuh tombol play dengan tongkat sihir yang ada di sana. “lihat! Tak ada apArrgghhh!” teriak Bert dan tiba-tiba saja tersedot ke dalam papan permainan itu.

“Bert ohhh!” kata Elizabeth dan langsung tersedot ke dalam sana dengan buku-bukunya.

“ElizabArgghhh!” teriak Edgar.

Polly, Dustin, Verby, dan Darwin langsung melotot. Mereka langsung berlari mencoba menjauhi angin yang tiba-tiba keluar dari papan permainan itu. Mereka terus berlari dan akhirnya mereka pun tersedot ke dalamnya.

Darwin tertarik dan perlahan bayangannya mulai menghilang. Tubuhnya terasa terkikis dan tak menginjak tanah. Dia merasa sangat pusing dan ingin muntah. Sampai tubuhnya terhuyung ke tanah, matanya langsung berair dan dia merasa mual. Entah hal apa tadi yang membuatnya benar-benar merasa tak enak.

“Di mana ini?” tanya Darwin sambil mencoba membenarkan tubuhnya.

Tiba-tiba Dustin datang tepat setelahnya. Dan Verby juga tiba-tiba muncul terjatuh dengan keras. Setelah itu Polly meluncur bersama papan permainan yang jatuh tepat di atas kepalanya yang sedang tengkurap.

“Arrgghh!” kata Polly menyingkirkan papan permainan besar itu.

“Sini Polly, coba kulihat!” kata Elizabeth.

Elizabeth langsung menarik benda kotak yang cukup besar itu. Dia sedikit melihat-lihatnya. Dia pun mengambil salah satu buku tebal yang tertata rapih di dekat Edgar duduk. Ketika dia membaca buku dengan serius, dia tiba-tiba terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangan membuat yang lain bingung dan heran.

“Ada apa, Elizabeth?” tanya Edgar mencoba melongo ke arah buku yang dibaca Elizabeth.

“Ini semua gara-gara kau, Bert!” kata Elizabeth menyalahkan.

“Kenapa harus aku?” tanya Bert tanpa dosa.

“Ya, kau penyebab semua ini! Aku sudah memperingatkanmu untuk tak menyentuhnya! Tapi kau malah menyangkal! Lihat sekarang, kita tak bisa pulang! Hanya satu-satunya cara yang bisa membuat kita pulang. Bermain Board of Death. Kita tak tahu apa benda ini berbahaya atau tidak, tapi menurut buku ini, benda ini memiliki sihir jahat yang sangat kuat. Benda ini bisa memanggil apa saja yang dia kehendaki. Dan perkamen juga tongkat ini, ini adalah alatnya. Perkamen ini nanti akan memunculkan peringatan atau bisa menjadi sebuah teka-teki. Sementara tongkat ini untuk bermain. Lihat papan ini! Hanya satu orang yang bisa membuat kita selamat, hanya Darwin,” kata Elizabeth memelankan suara pada akhir kalimat.

“Aku?” tanya Darwin.

“Ya, lihat! Jalur Darwin yang menunjukan kita ke finish dari permainan ini. Kita bermain sesuai dengan waktu kita jatuh, namun dari keempat sampai ketujuh dibalikan. Jadi, di sini Darwin dapat jalur keempat, namun boleh bagian terakhir. Bert pertama, Aku kedua, Edgar ketiga, Polly keempat, Verby kelima, Dustin keenam, dan kau terakhir. Dan jalurnya, Bert kesatu, aku kedua, Edgar ketiga, Darwin keempat, Dustin kelima, Verby keenam dan terakhir kau, Polly. Oh, ya, aku hampir lupa. Kita harus bersiap-siap dengan tongkat kita, kau tahu, kan? Bisa saja bahaya menyerang secara tiba-tiba, aku juga harus mengantongi bukuku dan memperkecilnya lalu memasukan ke dalam saku bajuku. Agar tidak hilang, Lugtletuf Book!” ucap Elizabeth sambil menjentikan jarinya.

Buku itu perlahan mulai mengecil sampai bisa muat ke dalam saku jubah Elizabeth. Elizabeth langsung memasukan semua bukunya ke dalam saku jubah coklat miliknya. Dia menghela nafas. Bert dan Polly menatap Elizabeth yang menurutnya sangat pandai.

“Bagaimana caranya kau membesarkan buku itu lagi?” tanya Bert bingung.

“Oh, itu gampang, tinggal hilangkan saja mantranya dengan mengembalikan ke keadaan semula, Farobucksent,” kata Elizabeth enteng, “tapi aku belum coba praktek, Darwin pernah melakukannya pada Samantha. Dia berhasil,” kata Elizabeth lagi.

“Oh, ya! Yang waktu ada kembang api itu, kan?” tanya Bert.

“Ya, tapi kalau buku ini nggak bakalan ada kembang api, hanya mantra biasa. Kalau yang dipakai Samantha, itu mantranya kuat,” kata Elizabeth, “kita harus cepat, mainkan permainannya, jangan tanya-tanya terlebih dahulu, nanti keburu malem,” kata Elizabeth lagi.

Bert mengangguk. Dia langsung meraih tongkat sihir khusus untuk permainan itu. Dia langsung menjentikan tongkat pada sebuah nama ‘Bert Wilson’ di jalur pertama. Tiba-tiba saja nama itu berjalan beberapa langkah ke depan. Sepertinya tiga langkah. Dan perkamen panjang terbang ke arah Bert. Perlahan terukir tinta hitam dengan tulisan tegak bersambung yang tiba-tiba muncul tanpa tinta.

“Perjalanan pertama dimulai. Jangan menghindar jika matahari mulai tenggelam,” ucap Bert membaca huruf-huruf dan kata yang tercetak di perkamen itu.

Dan setelah dia selesai, perkamen itu terbang lagi ke tempat semula. Tinta di perkamen itu mulai pudar dan menghilang. Perkamen itu kembali putih bersih dengan sedikit warna coklat tua di setiap sisinya.

“Perjalanan pertama dimulai, jangan menghindar walau matahari tenggelam, apa maksudnya?” tanya Bert bingung.

“Mungkin ini teka-teki. Atau peringatan, ya? Kurasa peringatan, mungkin maksudnya walau pun malam, kita tetap dalam bahaya,” kata Elizabeth.

“Jadi maksudnya, kita tak akan tidur?” tanya Polly.

“Kurasa, ra-Lariiiii!” teriak Elizabeth tiba-tiba.

Semua kaget. Dan langsung memeriksa ke arah belakang mereka. Seketika semuanya langsung mengangakan mulut dan berlari tunggang langgang menjauhi makhluk yang ada di sana.

“Makhluk apa itu, Elizabeth?” teriak Darwin berusaha berlari secepat mungkin.

“Itu, namanya-hah-hah,” kata Elizabeth terengah-engah.

Darwin masih menunggu jawaban Elizabeth sambil berlari. Seperti biasa, Edgar berteriak-teriak histeris ketika melihat makhluk besar itu. Sama ketika dia bertemu Troll jahat dan juga ketika masuk lorong bawah tanah untuk pergi ke Grondey. Sementara Dustin terlihat sangat syok dan trauma melihat lima puluh kepala juga seratus kaki yang ada di belakangnya.

“Mengapa dia memiliki kepala dan tangan yang sangat banyak?” tanya Polly sedikit terengah.

“Namanya-namanya Hecatoncheires,” kata Elizabeth terengah-engah juga.

“Oh, artinya seratus tangan!” kata Verby terlihat kaget dan terkejut.

Mereka terus berlari sambil berteriak. Tak ada mantra yang bisa membuat makhluk besar raksasa itu lenyap. Makhluk itu terus mengejar-ngejar ketujuh anak tersebut sambil menyingkirkan beberapa pohon yang tengah menggugur-gugurkan daunnya dengan keras. Makhluk itu memang tak berlari, hanya berjalan pelan. Namun satu langkah sama dengan berpuluh meter mereka berlari.

“Elizabeth, apa yang harus kita lakukan, aku sudah capai!” keluh Edgar.

“Kenapa bertanya padaku, kita harus-Aaaaaa!” teriak Elizabeth ketika seratus tangan kuat itu hampir menarik kakinya.

“Semut kecil, di mana kau?” kata suara menggema keras dan besar sambil mencabut tanaman-tanaman dengan tangan-tangannya yang kuat.

“Dia, dia makhluk mitologi kuno yang katanya masih ada, aku membacanya waktu naik kereta, mereka punya tangan yang sangat kuat. Banyak juga yang berkata bahwa mereka adalah jahat dan sangat mendukung sekali kejahatan. Mereka suka merusak,” kata Elizabeth menjelaskan.

“Kita tak butuh penjelasan tentang makhluknya, yang kita butuhkan cara penyerangannya!” kata Darwin.

“Aku tak tahu, Darwin. Tak ada orang yang pernah menyerang makhluk ini setahuku. Mereka hidup di zaman dahulu,” kata Elizabeth cukup nyaring dan sedikit tersendat-sendat.

“Aku rasa – kita harus – bersembunyi terlebih dahulu, kita – tak mungkin melawan – mereka,” kata Verby terjeda-jeda.

“Mereka? Maksudmu dia? Dia seorang,” gumam Polly.

“Yeahh! Mereka, dia memang seorang, tapi kepalanya begitu banyak, tak salah, kan jika ak-”

“Merunduk!” teriak Darwin ketika kepala mereka hampir saja tertangkap oleh puluhan tangan yang merayap.

“Aku-lelah, Darwin!” kata Edgar dengan nafas cepat.

“Kurasa, ide- Verby bagus! Kita- harus cari- gua!” kata Darwin terengah-engah sambil sedikit mengusap wajahnya.

“Arrgh!” geram makhluk itu masih terus mengejar mereka semua.

“Lihat! Di sana ada gua! Aku yakin kita bisa istirahat sekarang, cepat!” teriak Elizabeth sambil menunjuk sebuah lubang hitam dan gelap yang tak terlalu jauh dari mereka.

“Baiklah, bagus – Elizabeth,” kata Dustin sudah terlihat sangat kelelahan dan gemetaran.

Dengan cepat, mereka langsung berlari ke arah gua kecil yang mereka yakin tak akan muat untuk satu tangan makhluk itu pun. Mereka sudah kelelahan. Mereka juga sudah tak kuat lagi untuk berlari.

“Aku lelah, aku tak mau mati di sini!” kata Edgar.

Akhirnya mereka semua berhasil masuk ke dalam gua kecil dan gelap itu dan benar-benar merasa sangat lega. Elizabeth dan Darwin langsung menyalakan tongkat sihirnya. Ketika keadaan sedang hening, yang hanya desahan nafas terdengar, Edgar tiba-tiba terkejut.

“Papan permainannya! Di mana?!” kata Edgar begitu kaget dan sangat terlihat seperti orang yang tiba-tiba kehilangan ingatannya.

“Tenang saja, Edgar! Kau tak perlu terkejut seperti itu! Aku sudah membawa dan memperkecilnya ketika kalian terkejut, lagipula kita tak akan lupa,” kata Darwin mengeluarkan sebuah kotak kecil sebesar korek api.

“Farobuckshent!” katanya sambil menjentikan tongkat ke arah papan permainan yang mengecil itu.

Beberapa detik, papan itu mulai membesar dan menjadi besar seperti sedia kala. Dan Edgar terlihat sangat senang.

“Baiklah bagus sekali, sekarang bagian siapa? Aku ingin cepat-cepat pulang!” kata Edgar antusias.

“Hhh, aku tak terlalu yakin jika kita main, kita bisa pulang. Aku tak yakin,” kata Elizabeth sedikit mengeluh.

“Setidaknya kita punya harapan,” balas Darwin mencoba menerawang apa yang terjadi.

“Apa kau masih menggunakan kelebihanmu itu?” tanya Elizabeth ketika semuanya diam.

“Aku tak tahu, padahal mungkin di sini banyak sekali sihir jahat, tapi-”

“Semua sihir jahat, Darwin,” kata Elizabeth menyela.

“Tapi kita belajar,” balas Bert.

“Ya, untuk pertahanannya saja, kita tak akan belajar banyak, itu karena terlalu banyak orang yang menyalah gunakannya,” kata Elizabeth lemah.

“Cepatlah main Elizabeth,” kata Edgar memelas sambil memberikan tongkat sihir permainan.

Elizabeth mengambil tongkat itu lemah. Lalu dia menempelkan ujung tongkat ke papan tepat di jalur dua yang ada nama ‘Elizabeth Benson’. Beberapa langkah nama itu melaju. Dan perkamen mulai terbang ke arah Elizabeth.

“Hati-hati! Awal musim gugur akan datang hujan deras,” kata Elizabeth sedikit mengernyit.

Perkamen itu terbang kembali ke tempat semula dengan menghilangnya tinta di perkamen itu. Semua mata tertuju kepada Elizabeth yang hanya seorang diri berada di sana. Dia satu-satunya wanita yang ikut menghilang dengan enam pemuda lainnya.

“Eli-”

“Yeah, aku tahu. Aku sedang haid,” kata Elizabeth menyela Edgar yang akan mengatakan bahwa di belakang bajunya ada sedikit bercak darah.

“Baiklah, giliran kau Edgar!” kata Polly lalu bersandar di dinding gua. “dinding ini licin,” katanya.

“Bernarkah? Oh, ya!” kata Edgar sedikit meraba dinding gua itu juga. “baiklah, sudahan dulu merabanya. Aku akan main,” kata Edgar.

Edgar menjentikan tongkat. Nama ‘Edgar Ferdinand’ di jalur ketiga melaju lima arah ke depan. Perkamen melayang dan perlahan untaian huruf tegak bersambung itu mulai muncul lagi dengan tinta yang sama.

“Jangan bangunkan atau tanahmu akan bergetar dengan cepat, apa maksudnya?” tanya Edgar.

“Membangunkan, maksudnya membangunkan siapa?” tanya Verby kebingungan.

“Bukan kah tanah bergetar itu gempa?” tanya Darwin.

Mereka semua kebingungan. Tiba-tiba tanah yang sedang mereka injaki bergetar. Elizabeth yang pertama kali terkejut dan menyadari hal itu.

“Ada apa ini?” tanya Edgar bergetaran.

“Huaahhhh!”

“Aaaaaa!” teriak Elizabeth ketika sepasang pasukan makhluk aneh datang dari arah belakang mereka.

“Lari! Bawa papannya!” teriak Dustin.

“Ya, lugtletuf!” kata Darwin menjentikan tongkat pada papan dan langsung menariknya.

Mereka semua langsung meloncat dari dalam gua mencoba menjauhi makhluk-makhluk yang hendak menyerang mereka semua. Elizabeth menatap ke belakang. Laba-laba raksasa keluar dari mulut gua itu. Tapi mereka tak mengejar anak-anak ini. Laba-laba itu malah berlari berlawanan arah.

“Lihat guanya! Lihat, itu bukan gua, tapi-tapi monster!” teriak Edgar histeris.

Semua mata langsung tertuju pada monster raksasa yang mereka kira adalah gua. Jadi tadi mereka tengah terduduk di dalam mulut itu. Dan maksudnya membangunkan, adalah membangunkan monster itu.

“Bahaya! Kita harus berpencar!” teriak Verby.

“Tidak! Kita harus bersama-sama. Jika kita berpencar, kita tak akan bisa main, permainan ini sudah ditentukan pemainnya dan hanya bisa main oleh gilirannya!” kata Elizabeth membantah.

“Lalu kita apa?” tanya Darwin cepat.

“MENGHINDAR!” teriak Dustin saat makhluk itu hampir menginjak mereka semua.

Ketujuh anak itu terpelanting akibat derap besar kaki yang berpijak di tanah. Hampir saja mereka terinjak. Baru tersenggol sedikit saja sudah terpelanting jauh seperti itu, apalagi jika terinjak. Mungkin mereka sudah gepeng dan remuk karena kaki besar tersebut.

“Hah! Untunglah,” kata Elizabeth mendesah.

“Makhluk itu tak melihat kita, kan?” kata Dustin menghela nafas.

“Kurasa tidak,” balas Darwin bersandar di batu besar.

“Uhh! Hari ini akan jadi hari terburuk untukku, setelah kita mengecoh Troll,” kata Edgar mencoba berbaring di tanah, “dan juga melihat wujud Samantha, aku kira dia benar-benar cantik,” kata Edgar lagi, “untung nggak ada si Edmund, kalau ada, pasti dia pasti mengejek aku yang berteriak-teriak,” kata Edgar lagi untuk kedua kalinya.

“Aku juga sudah bilang, Samantha itu sedikit berbahaya, tapi kau malah menyukainya!” kata Elizabeth.

“Tadinya,” balas Edgar.

Darwin menatap ke arah Elizabeth. Lalu Elizabeth juga menatap ke arahnya. Darwin mengalihkan pandangan ke arah lain namun Elizabeth sedikit menatapnya lagi dengan pandangan kecewa. Dia berpikir bahwa Darwin mungkin belum tahu.

“Ayo buat perlindungan di tempat ini, kita bisa mempelajarinya di bukuku. Kita harus tidur, tapi kita tak tahu apakah berbahaya atau tidak,” kata Elizabeth menarik sebuah buku tebal berjudul ‘Mantra’.

“Kurasa kau benar, kita harus buat sekitar seratus meter ke semua arah dari sini untuk berjaga-jaga,” kata Darwin.

“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Edgar.

“Menolak semua makhluk datang ke sini kecuali kita, tapi hanya delapan jam bertahannya. Kita pastikan untuk bisa mempelajarinya. Aku ingat, kita datang kesini sekitar pukul dua belasan. Dan sekarang sudah cukup sore, kita bisa belajar dulu sebentar, kan?” tanya Elizabeth.

Mereka semua mengangguk dan langsung membuka buku milik Elizabeth yang berjudul Mantra itu. Mereka mencari-cari halaman yang mempelajari tentang Mantra pelindung tempat. Mereka tahu bahwa mantra pelindung itu baru dipelajari pada kelas empat nanti. Untuk anak kecil seperti mereka belum tentu bisa. Namun di sana ada Elizabeth, yang sangat pandai dalam hal ini. Juga Darwin yang selalu langsung bisa melakukan sesuatu meski pun kadang-kadang gagal.

“Baiklah, kita harus mencari batu besar. Tak perlu terlalu besar, sekitar sebesar kepala kita kalau ada. Ini hanya untuk membatasi saja setiap sudutnya. Aku belum bisa langsung, masih pemula,” kata Elizabeth sambil membaca beberapa kata di sana.

“Oke, aku akan membatasinya, ayo! Polly, Edgar, Verby!” kata Bert sambil menarik ketiga anak itu.

Mereka bertiga langsung berjalan dan mencari batu yang cukup besar. Mereka meletakan setiap batu itu di arah kanan, kiri, depan dan belakang mereka. Setelah itu Elizabeth memantrai batu-batu itu dengan bahasa yang tak sama sekali mereka mengerti. Entah apa, tapi Elizabeth terdengar beberapa kali mengulang kata-katanya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Edgar.

“Membuat mantra, hanya butuh waktu dua jam, tak lama. Mungkin kita akan langsung tidur dan terbangun di pagi buta untuk mencari makanan juga mencari kayu, atau bahkan bisa mencari kayu terlebih dahulu, kita bisa makan juga, aku sedikit lapar,” jelas Elizabeth.

“Di sana ada pohon apel!” kata Dustin sambil menunjuk ke arah timur darinya.

“Hhah?! Aku tak pernah menyadarinya,” kata Edgar.

“Kita tinggal memetik saja, sebelum musim gugur,” kata Darwin sambil berdiri dan sedikit menepuk-nepuk bajunya.

“Ya, tinggal pakai mantra saja, apa susahnya? Platberod!” teriak Elizabeth.

Apel-apel yang menggantung di atas pohon itu perlahan mulai terbang ke arah mereka. Darwin dan Elizabeth segera mengambil apel-apel yang melayang ke arah mereka itu.

“Waw keren, apa namanya?” tanya Polly juga sambil meraih apel-apel itu.

“Cuma mantra biasa, harusnya dipelajari sekarang. Namanya mantra gravitasi, jadi kita bisa menarik apa saja yang kita mau untuk kita tarik, kita bisa mendapatkannya,” kata Elizabeth antusias.

“Bagaimana dengan Grondey? Kita bisa membawa menara itu ke sini, kan? Atau bagaimana?” tanya Edgar dengan mulut penuh.

“Oh, bodoh! Kita tak bisa menarik benda berat, hanya benda-benda ringan yang sekiranya dapat kita ambil sendiri. Apa kau mampu mengangkat Grondey? Tentu tidak!” kata Elizabeth sedikit membentak pada Edgar.

“YA!” kata Edgar sinis sambil mengunyah apelnya yang tinggal separuh.

Mereka masih terduduk menunggu hari gelap sambil memakan apel dan memainkan papannya sampai Verby. Beberapa kali mereka mendapat serangan yang tak terlalu besar. Seperti goblin dan dwarf. Mereka tak terlalu membahayakan dan cukup bisa mengalahkannya dengan mantra yang Darwin pakai ketika semester pertamanya. Dan setelah itu, mereka membuat perlindungan pada tempat di sekitar mereka jika sekiranya telah cukup larut untuk tidur. Dan setelah itu, mereka terlelap dan pergi terbang ke dunia mimpi masing-masing yang selalu mereka harap dapat melupakan hari ini dan segera pulang besok. Mereka berharap dapat bermimpi indah dan mengalami Lucid Dream. Mencoba mencari cara untuk menyelesaikan permainannya dengan cepat dan segera pulang.

Malam itu Darwin terbangun dengan mimpi buruk yang menggelayutinya. Dia melihat seorang pria jangkung dengan badan kekar. Pria itu menjentikan tongkat sihir ke arah dahinya. Di sekitarnya dikelilingi orang berjubah hitam tanpa terlihat wajahnya. Dan yang paling jelas, pria itu punya sebuah tanda merah tepat di dahinya dengan mata sebelah kanan yang terlihat katarak. Tapi tidak, matanya tak katarak. Hanya terlihat sangat berbeda dengan mata coklat tua kirinya. Dia tak tahu, orang itu terasa sangat familiar untuknya. Dia merasa pernah melihatnya, entah kapan. Apa benar, atau hanya perasaannya saja yang mengalami Deja Vu? Entahlah, Darwin bingung.

Darwin lalu bangun dan mulai duduk termenung. Udara yang berhembus tulang terasa sangat menusuk. Apalagi langit terlihat sangat mendung, seperti akan turun badai besar yang hendak penghantam ketujuh anak itu.

“Kau tak tidur, Darwin?” tanya Elizabeth tiba-tiba membuyarkan lamunan Darwin.

“Eh, err, tidak,” kata Darwin merapatkan jubahnya untuk menahan angin malam.

Mereka berdua terdiam selama beberapa menit tanpa keluar sepatah kata pun dari kedua mulut tersebut. Dan Elizabeth mulai merapat mendekati Darwin yang duduk di depan bekas api yang semalam dinyalakan. Terlihat kayu yang sudah menjadi arang dan menghitam. Mereka hanya duduk memandangnya.

“Kau tak menyalakan apinya, Darwin?” tanya Elizabeth yang dibalas oleh Darwin dengan gelengan “Akan kunyalakan” kata Elizabeth sambil membawa beberapa buah kayu bakar yang tergeletak lemah di dekatnya dan langsung menyalakannya. “Lebih hangat bukan?” tanya dia.

Darwin mengangguk mengiyakan perkataan Elizabeth. Dia tak berkata apa-apa lagi kepada Elizabeth. Dia hanya duduk sambil melamun di depan api. Elizabeth menatap mata biru milik Darwin. Dia tiba-tiba terkejut sambil sedikit menghindari Darwin. Darwin bingung.

“Ada apa?” tanyanya cepat.

“Matamu! Di sana! Aku melihat sesuatu yang berputar dan-” kata Elizabeth terbata sedikit gemetaran.

“Dan apa?”

“Aku-aku bisa membaca pikiranmu, seseorang. Ya, dia-dia mencoba untuk, membunuhmu! Ya, Darwin! Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?” tanya Elizabeth gugup dan bingung. Dia beberapa kali mondar-mandir memikirkan sesuatu.

“Sudah Elizabeth, duduk!” kata Darwin sambil mendorong pundak Elizabeth ke bawah.

“Aku ingin kau tutup mulut, ini tak ada hubungannya sama sekali denganku dan seseorang yang membunuhku! Kau salah lihat!” kata Darwin mencoba menutupi semua yang membuatnya resah, pria itu.

“Tidak, aku tak mungkin salah lihat! Kau berbohong, Darwin! Aku tahu, kau sedang memikirkan sesuatu! Kau tak perlu berbohong padaku, itu hanya untuk tak membuatku cemas, kan?” kata Elizabeth yang bisa membaca pikirannya. “Katakan saja Darwin, kau jangan berbohong, semuanya tampak jelas dari matamu! Kau-”

“Selamat tidur, Elizabeth,” kata Darwin lemah.

Darwin lalu tidur di atas bebatuan dan tak menatap lagi Elizabeth. Dia memunggunginya sambil terus mencoba merapatkan jubah. Sementara Elizabeth terduduk dan mulai mencoba tidur. Dia tahu Darwin orang yang seperti itu. Darwin tak tahu bahwa dirinya pernah diajarkan mantra pembaca pikiran oleh Prof. Greture saat dia dipaksa melakukan pelajaran tambahan. Darwin tak tahu bahwa dirinya cukup mahir. Apakah Darwin menganggapnya bodoh?

Fajar mulai menyingsing diiringi berhilangnya perlindungan dari tempat yang mereka pijaki. Ketujuh anak itu mulai bangun dengan tubuh lengket dan kusam. Elizabeth masih tampak cemas pada Darwin. Namun Darwin mencoba menepis pemikiran itu.

“Kita langsung main saja, Dustin, giliranmu,” kata Elizabeth lemah.

Dustin mulai menjentikan tongkat dan membaca perkamen melayang. Tulisannya kurang lebih, ‘Setelah matahari menyingsing, setelah tulisan ini, sesuatu akan terjadi dan mulai terkabul’.

“Apa maksudnya? Apakah kita akan kembali ke Grondey?” tanya Edgar mencoba meraih apel.

Darwin menatap sekeliling. Daun-daun di sana tampak sedang berguguran. Daun-daun itu sudah menguning dan pantas untuk jatuh. Darwin lalu memandang kembali papan dan memandang jalur keempat. Darwin William, itu nama yang tertera di sana.

Tanpa disuruh, Darwin mengambil tongkat dan menempelkan ujungnya pada namanya. Nama itu berjalan enam langkah dan artinya dia harus main kembali.

“Lakukan lagi,” kata Elizabeth.

Darwin melakukan hal serupa. Dia maju selangkah dan perkamen mulai melayang ke arahnya diikuti tulisan sambung yang mulai muncul beberapa detik kemudian.

“Tunggu lima menit. Jangan kaget jika sesuatu terjadi. Cukup mudah dihafal,” kata Darwin sambil menaruh tongkat.

Mereka hanya terduduk mencoba melihat apa yang akan segera terjadi. Elizabeth beberapa kali bersiap-siap. Sementara Darwin masih menatap daun-daun yang mulai berguguran. Dan dengan tak sengaja, dia ingat kartu pertama Elizabeth yang menyatakan bahwa hujan deras akan datang di awal musim gugur.

“Apa sekarang musim gugur?” tanya Darwin menoleh ke arah teman-temannya.

“Bisa dibilang begitu,” kata Verby.

“Elizabeth, apa kau ingat? Kartu pertamamu menyatakan bahwa awal musim gugur akan hujan deras,” kata Darwin.

“Ah, kau benar! Apa sebentar lagi akan hujan, ya?” tanya Edgar.

Darwin tiba-tiba terhenti. Secara langsung, matanya seperti bisa menerawang ke masa depan. Terasa waktu seperti berhenti. Di tengah-tengah mata birunya terlihat lima kristal mengelilingi sesuatu berwarna hitam. Dan secara tak sengaja, dia melihat daun-daun yang gugur dan sangat banyak sedang menuju ke arah mereka seperti tsunami. Daun itu bergerak sangat cepat dan membuyarkan lamunan Darwin. Darwin kaget, dia langsung memantrai papan permainannya dengan “Lugtletuf board!”

“Ada apa, Darwin?” tanya Elizabeth cepat.

“Lari, sekarang! Akan ada tsunami daun menghantam kita, lari!” kata Darwin sambil langsung berlari.

Elizabeth dan yang lainnya terkejut. Mereka langsung mengikuti perintah Darwin. Dan benar saja, terdengar gemuruh besar dari arah belakang mereka.

“Darwin, bagaimana kau tahu?” tanya Elizabeth sambil berlari.

“Aku dapat melihatnya, kita harus cepat!” kata Darwin sambil memeriksa sakunya yang berisi papan permainan yang mengecil.

Elizabeth mengangguk. Gemuruh itu semakin lama semakin keras dan terdengar jelas. Tak lama, terlihat sekumpulan daun-daun tengah berlari mengimbangi langkah mereka dan membuat Elizabeth berteriak histeris.

“Aaaaa!” teriak Elizabeth.

Mereka berlari semakin cepat. Tsunami dedaunan itu sedikit menggetarkan tanah. Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang cukup keras dari arah depan mereka. Dan daun-daun itu tiba-tiba muncul dari arah depan mereka. Mereka terhenti. Bingung juga panik. Apa yang harus mereka lakukan? Tak ada jalan lain untuk berlari.

“Bagaimana ini-Arrgghhh!” teriak Edgar.

Ketujuh anak itu tersapu oleh daun-daun yang menghantam mereka dengan cepat. Tubuh mereka hanyut bersama dedaunan yang terus bergerak cepat di atas tanah. Elizabeth dan Edgar berteriak sama histerisnya, walau pun anak lain juga merasa takut dan berteriak, tapi tak sehisteris Elizabeth dan Edgar.

“Arrgh!” geram Darwin ketika tubuhnya tergeletak lemah di atas dedaunan yang telah berhenti bergerak.

“Di-di mana kita?” tanya Elizabeth gemetaran dan bangun.

“Hutan ini terlihat terbakar,” kata Verby sedikit menepuk jubahnya yang kotor.

“Tidak! Tampaknya daun tadi berasal dari hutan ini! Lihat! Hutan ini benar-benar gundul!” kata Darwin sambil menunjuk ke arah pohon-pohon yang tinggal batang dan rantingnya saja.

“Pergi dari hutan ini!” teriak sebuah suara menggema dari arah pohon-pohon.

“Siapa itu?” tanya Elizabeth cepat.

“Pergi! Pergi!” kata suara itu menggema lagi.

“Dryad!” kata Elizabeth menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dryad? Apa itu Dryad?” tanya Edgar bingung.

“Semacam Nymph-peri-, tapi Nymph ini hidup di tumbuhan. Namanya Dryad, atau peri hutan,” kata Elizabeth antusias.

“Pergi!” teriak suara itu lagi.

Elizabeth berdiri dan langsung mendekati salah satu pohon yang menyisakan sebuah daun di sana. Elizabeth mulai menyentuh pohon itu dan menutup matanya. Dia mempraktekannya seperti merasuk ke dalam batang pohon tersebut. Selang beberapa saat, sebuah kepala muncul dari atas dan ada sebuah tangan. Seorang wanita berparas cantik setengah pohon itu membuka matanya dan mengibarkan rambut hijaunya. Semuanya kaget kecuali Elizabeth.

“Namaku Elizabeth, bisa kah kau memberitahu di mana kami?” tanya Elizabeth melepaskan sentuhan itu dari batang pohon.

“Oh, kau berada di hutan Harphioneria. Tepat di sebelah selatan Grand away,” kata Dryad itu dengan suara mendesah.

“Be-besar pergi? Grand Away?” tanya Elizabeth sedikit aneh dengan nama itu.

“Ya, Grand Away. Kau tak tahu, Grand Away?” tanya Dryad itu.

“Tidak, bisakah kau beri tahu kami, sekarang kami berada di tahun ke berapa?” tanya Elizabeth.

“Oh, tentu. Kau ada di tahun 1009 masehi, tak tahu?” tanya Dryad itu.

“Hah?!” kata Edgar terkejut mendengar kata 1009 masehi.

“Tidak, kita mundur seribu tahun. Kita berada seribu tahun yang lalu!” kata Elizabeth gemetaran.

“Ada apa?” tanya Dryad itu bingung.

“Kami terjebak di dalam waktu, kami dari 2009 masehi, tidak, ohh!” kata Elizabeth murung.

“Tak apa, aku punya teman di sini. Dia seorang penyihir, mungkin dia bisa membantu,” kata Dryad itu menawarkan pertolongan.

“Di mana?” tanya Elizabeth cepat.

“Kau tinggal lurus saja dari sini, sampai kau melihat sebuah pertigaan. Nah, kau belok kanan dan tak jauh akan ada pondok kecil di sana, semoga perjalananmu menyenangkan.”

Darwin tampak terduduk di atas batang pohon yang tumbang dengan lemas. Begitu juga yang lainnya. Mereka tampak lelah dan tak bersemangat. Tiga jam sudah mereka berjalan. Dan beberapa puluh menit darinya mereka dikejar-kejar kawanan Centaurus di hutan Harphioneria gara-gara permainan itu. Lelah sudah mereka. Berhubung pagi tadi hanya makan beberapa gelintir apel yang tersisa. Juga mereka belum minum selama seharian. Sekarang tubuh mereka tambah kumal dan kusut.

“Ahh..hh! Ini lebih menyeramkan dari hutan Scarymus. Aku benar-benar lelah, andai saja hujan deras itu hujan beneran, ini malah hujan dedaunan. Kalau hujan beneran kita nggak terlalu capek,” kata Edgar mengeluh sekaligus mengomentari cuaca siang ini yang tak bersahabat dengan mereka.

Semua terdiam. Panas mentari seakan membungkam mereka untuk tak berkata dan menyuruh mereka untuk berdiam. Tak ada sedikit pun suara dari mereka kecuali desahan nafas yang teramat kelelahan. Mereka sudah tak tahan dengan hawa siang yang membakar kulit dan tubuh kecil mereka. Juga dengan papan permainan yang tak sama sekali memberikan harapan.

“Baiklah, giliranmu, Verby,” kata Elizabeth lelah dan memberikan tongkat pada Verby lemas.

“Baiklah, akan kuusahakan agar bisa menang,” kata Verby mencoba menjentikan tongkat sihir pada jalur keenam.

Perkamen melayang ke arahnya tanpa ada peringatan maupun tulisan yang tertera di sana. Perkamen itu kosong. Tak ada goresan yang membuat perkamen itu kotor.

“Baiklah, permainan ini kenapa, sih? Bagian Bert, Elizabeth, aku, Polly dan Verby terus begini? Apa rusak?” tanya Edgar sedikit marah dan sebal karena permainan itu tak merespon sesuai dengan keinginannya.

“Oke, kita tunggu sampai Dustin, apa permainan ini emang udah rusak,” kata Elizabeth.

Dustin segera mengambil tongkat sihir itu. Ini adalah kedua kalinya dia bermain. Yang artinya dia punya kesempatan main sekali lagi. Dan ketika nama Dustin George melaju, perkamen melayang dengan sebuah tulisan di sana yang membuat mereka semua gembira.

“Ayo apa?” kata Edgar tak sabar.

“Petujuk jalan: lima puluh langkah ke arah timur untuk menemukan si pondok reyot.”

Mereka semua langsung tersenyum bahagia. Akhirnya mereka dapat petunjuk dari permainan ini. Dengan cepat mereka segera menghitung langkah mereka ke arah timur. Dan benar saja, di sana ada pertigaan yang memisahkan tiga jalan berbeda. Mereka segera berbelok ke arah kanan. Tepat di sana terdapat sebuah pondok yang sangat reyot dan tampak rusak. Bilik bambunya sedikit bolong-bolong dan tampak tak terawat. Darwin mengernyitkan dahi melihat pemandangan tak mengenakan itu.

“Seperti rumah kosong, sangat jelek sekali,” kata Darwin mengejek gubuk itu.

“Masuklah! Kau akan merasa tak percaya jika melihatnya,” seru suara dingin dan berat dari dalam sana.

Mereka perlahan mulai berjalan memasuki pondok. Ketika mereka masuk, tepat seorang pria sedang terduduk di kursinya memunggungi mereka. Darwin merasa pria itu tak asing baginya. Ketika pria itu hendak memalingkan wajah padanya, mata biru Darwin kembali bereaksi. Kristal putih berputar mengelilingi sebuah lingkaran hitam. Dan matanya tiba-tiba bisa menerawang apa yang selanjutnya akan terjadi. Pria itu, pria dengan tanda merah di dahinya yang akan membunuhnya. Tepat dia melihat bagaimana detailnya gerakan pria itu mengangkat tongkat sihir dan mengeluarkan mantra padanya. Darwin spontan langsung meloncat dan mendorong teman-temannya menjauh dari mantra itu.

“Pergi! Dia akan membunuh kita!” teriak Darwin.

Mereka semua tersentak dan langsung berlari. Dustin sedikit ketinggalan karena merasa panik. Sementara yang lain masih terus berlari. Dia benar-benar melihat pria itu mengejarnya. Pria itu bertanda merah di dahi dan berkaki ular. Tubuhnya tubuh manusia. Namun kakinya ular. Pria itu melata cepat dan hampir mengimbangi langkah mereka.

“Darwin, kau main!” kata Elizabeth.

Darwin mengangguk. Dia mencoba bermain walau sambil berlari. Dia harus cepat-cepat menyelesaikan permainan itu dan berharap segera pulang. Namun sayang, dia tak melaju empat langkah. Malah tiga langkah yang artinya dia kurang satu langkah untuk menuju finish. Sementara Bert, Elizabeth dan Edgar tak sama sekali melaju dan mendapatkan perkamen kosong sama seperti Darwin. Dan pada saat Polly bermain, mereka mendapatkan bantuan dari Scorpio yang setidaknya mengulur waktu pria bertanda merah itu untuk mengejar mereka. Namun naas, ketika Dustin akan main, Darwin dihantam oleh pria itu dan pria tersebut menjentikan tongkatnya ke arah dahi Darwin.

“Arrghh!” geram Darwin.

“Cepat, Dustin! Ini giliran terakhirmu!” kata Elizabeth cepat.

Dustin langsung menjentikan tongkat pada papan. Sementara Darwin sudah mengerang minta dilepaskan karena tindihan pria itu yang sangat kuat juga mencekik keras lehernya. Ketika perkamen melayang, tongkat pria itu juga melayang. Di perkamen itu tertulis “Mari berputar di awan dan biarkan temanmu yang selanjutnya maju satu langkah.”

Mereka bingung dan melihat nama Darwin William maju satu langkah. Tiba-tiba saja Elizabeth tersenyum riang.

“Kita menang!” katanya.

Semua terkejut. Tepat saat pria bertanda merah itu menjentikan tongkatnya dan membaca mantra, Darwin dan kenam temannya tertarik ke dalam papan dan menyebabkan mantra itu meleset ke arah matanya. Pada saat itu mereka langsung berteriak dan merasa tubuhnya berputar dan diguncang keras. Darwin masih merasakan dirinya berteriak dan langsung terjatuh di atas tanah putih dengan lemas. Dia terbaring di sana bersama teman yang lainnya. Dalam waktu beberapa detik, Darwin langsung terbangun sambil memegang matanya. Hitam, matanya hitam. Seketika dia merasa sedikit kedinginan dan langsung terbangun. Ketika seorang anak di atas menara berteriak sambil menunjuk ke arah mereka, semua dari dalam asrama langsung berlari keluar untuk menghampiri Darwin dan keenam teman lainnya yang pingsan di atas salju. Darwin bingung, salju? Mengapa sudah bersalju?

“Darwin! Aku mencemaskanmu, kemana kau pergi bersama teman-temanmu? Kau menghilang selama berbulan-bulan,” kata Prof. Robert cemas sambil langsung memeluk Darwin. “Lopez, Greture, Colin, Knite, kalian bopong anak-anak ini ke rumah sakit, biarkan aku berbicara dengan Darwin. Anak-anak, kalian kembali ke asrama kalian,” titah Prof. Robert.

Anak-anak kembali ke dalam asrama dan temannya yang lain – keenam temannya- dibawa ke rumah sakit. Sementara Darwin mengikuti Prof. Robert ke kantornya dan langsung duduk berhadapan.

“Aku memiliki beberapa pertanyaan untukmu,” kata Prof. Robert.

“Silahkan, Profesor,” balas Darwin.

“Ke mana kau pergi, Darwin?” tanya Prof. Robert.

“Saya tak tahu, Profesor. Tapi benda ini-”

“Oh, darimana kau dapati ini?” tanya Prof. Robert cepat ketika Darwin mengeluarkan papan permainan Board of Death.

“Verby membawanya, tapi dia mencegah untuk menyentuhnya, namun Bert nakal, dia menyentuhnya dan membuat kami tersedot ke sana. Selama dua hari kami terjebak di tahun seribu sepuluh, Profesor,” kata Darwin.

“Ya, Ayah Verby bekerja di kementrian. Dia menyuruh Verby untuk membawa benda hitam ini dan menghancurkannya di sana. Tapi ternyata Bert malah menyentuhnya. Sekarang biarkan benda ini ada padaku. Aku akan membawanya ke kementrian besok. Oh ya, kau bilang di sana dua hari? Tapi kau menghilang berbulan-bulan. Ngomong-ngomong, darimana kau dapat tanda hitam di matamu itu, Darwin?”

“Oh, ini Profesor?” tanya Darwin menunjuk mata kirinya, “seseorang akan membunuh saya. Namun mantranya meleset karena saya tertarik pada permainan. Dia punya tanda di dahinya, berwarna merah. Tak punya kaki tapi ekor ular,” kata Darwin menjelaskan orang yang hampir membunuhnya. Prof. Robert sedikit terkejut.

“Ada apa, Pro-Profesor?” tanyanya bingung.

“Oh, tidak, Darwin. Kau boleh pergi menengok temanmu. Lagipula matamu perlu diobati. Mintalah seseorang di rumah sakit mengobatinya!”

Hari-hari Darwin setelah pulang sangat melelahkan. Mereka tidak diwajibkan untuk mengikuti ulangan akhir semester saat itu. Para Guru bisa mengerti bagaimana traumanya mereka menghadapi makhluk-makhluk menyeramkan yang baru saja mereka temukan. Apalagi Dustin, dia kadang sering melamun sendiri. Edmund tak terlalu sering menghina Edgar kini. Dan Thom and Jerry tampak lebih baik dari sebelumnya. Entah Hilton telah melemparkan mantra atau ramuan apa pada mereka.

Saat akhir semester, Elizabeth berada di peringkat paling atas dan membuat posisi Drawsentclass jadi semakin tinggi. Walau dia ketinggalan berbulan-bulan pelajaran, tapi dia sangat jenius dan bisa mendapatkan rangking itu. Sementara Darwin turun dua tingkat dari asalnya.

“Aku tak tahu kenapa Elizabeth ajaib,” kata Edgar.

“Ya, dia sulit untuk dimengerti,” balas Darwin.

“Pakai mantra pembodoh saja untuknya. Tapi aku tak yakin dia bisa turun peringkat,”

“Sedang menggossipkanku?” tanya Elizabeth. Darwin tersentak. Mereka langsung tertawa bersama.

“Jangan menertawakanku!” bentak Elizabeth.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s