Posted in Love Actually

Risalah Hati


Ini adalah angin, angin yang mengerti aku tanpa adanya syarat dan ketentuan. Aku dapat bercerita apapun padanya. Menumpahkan semua keluhku yang sesak di dalam dada ini. Keluh yang sering kali tertahan oleh diri mu. Bingung, itu yang selalu ku rasakan, aku takut akan menyinggung mu atau menyakiti perasaaan mu ketika aku mengungkapkan perbedaan ini. Dan ini sangat menyiksa ku. Kita selalu berbeda di sisi manapun, awalnya ku fikir perbedaan itu indah. Karena kita dapat mengisi satu sama lain. Tapi itu sangat keliru. Semakin kita paksakan unuk menjalanni kisah ini, semakin aku merasa kau mulai menjauh

****

 

Ini sudah kesekian kali nya kau membuatku menunngu. Kau paksa aku untuk selalu bergumul dengan waktu. Kulihat jam tangan ku, ini sudah hampir melewati jam malam yang telah di tentukan oleh ayahku. Tapi aku tak juga melhatmu muncul untuk melemparkan senyum. Senyum ? tidak kau tak pernah melakukan itu untukku. Akhir nya kuputuskan untuk sudahi proses yang sangat menyebalkan ini. Mungkin kau melupakan janji malam ini. Aku sudah memaklumi ini karena ini bukan yang pertama kali. Ku lewati aspal yang hitam pekat ini di hiasi oleh garis putih yang monotone. Membuatku semakin jengkel dengan “CINTA” ini.
Aku merasa di permainkan olehmu. Meskipun aku menyadarinya tapi tetap saja, aku selalu kembali pada mu. Padamu yang tak pernah  ada gairah untuk menjalani cinta ini.

Kau selalu menganggapku sebagai penghalang. Selalu menolak ku dengan keheningan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir manismu. Kau selalu menyalahkan apa yang ku perbuat. Kau tak pernah mau tau tentang apa yang sedang ku rasakan. Kau selalu dengan duniamu, tak pernah menganggapku ada. Ini sangat menyakitkan untuk ku. Kau membuat ku seperti boneka untuk luapan perasaan mu yang datar. Aku tak pernah bisa tau apa yang ada difikiranmu. Ku hanya bisa melihat benang kusut dalam tatapan mu ketika kau melihatku. Seolah aku parasit dalam duniamu.
Terkadang aku bertanya pada diriku “Apa aku salah mempertahankan cintaku?” meskipun kau tak pernah membalasnya. Tapi apa guna kau meminangku saat itu? Entahlah aku juga tidak mengerti akan sikap dinginmu kepadaku. Yang terpenting aku sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Setidaknya aku sudah mencobanya.
Apa mungkin aku ini hanya pelarian mu? Tapi pelarian yang seperti apa yang kau perbuat. Aku merasa terpenjara dalam warna abu-abu cinta kita. Merasa terpasung dalam nanar yang kau tunjukkan kepadaku.

Jika aku bertanya apa yang terjadi padamu, kau hanya menjawab seperlu nya. Membuatku semakin frustasi menghadapi dirimu.
Menambah tanda “TANYA” besar didalam memori otakku dan itu sangat menjengkelkan.

Aku mulai lelah dengan “jalan cerita” ini. Aku lelah untuk meyakinkan kamu. Ini sama saja mengharap kan batu es menjadi berlian. Apa aku salah? Ku rasa tidak, aku hanya ingin menagih janji mu sewaktu kau meminangku di hadapan para pasir pantai dan cahaya matahari.
Aku hanya meminta tanggung jawabmu sebagai imamku. Karena aku telah memberikan separuh nyawaku kepadamu. Apa itu tidak cukup? Atau malah belebihan?

Dan pada akhirnya aku masih menunggumu, menunggu kau bicara. Membagi semua beban di pundakku. Meskipun aku tau itu akan  memakan waktu yang lama. Terkadang aku sangat iri kepada pasangan lain, yang selalu berbagi cerita, saling menguatkan di saat dalam keadaan ringkih, memberikan dadanya untuk bersandar. Sungguh indah rasanya.

****

 

Aku selalu menghabiskan malam dalam kebisuan. Melihatmu tidur pulas, hanya itu yang bisa ku lakukan ketika aku merindukann mu. Entah dosa apa yang kulakukan padamu sehingga kau seperti ini. Selalu kesepian yang menemani ku di saat kau sangat jauh dariku.

Ku harap kau akan segera mengerti, Karena aku sangat tersiksa melihat keadaan kita yang seperti ini. Aku ingin melihat imamku yang dulu menuntunku. Selalu hangat di setiap kesempatan, menenagkan ku di setiap kegalauan yang menerpaku. Apa begitu sulit untukmu untuk kembali?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s