Posted in Love Actually

Menunggu (Selingkuh)


Gambar

 

 

Berulang kali aku mengintip jam yang terpajang di tembok kafe. Gerak jarumnya terasa sangat lambat. Ya, aku memang datang terlalu awal dari janji yang telah kubuat dengannya. Aku datang 30 menit sebelum waktu yang disepakati. Kucoba berbagai cara untuk mengusir kebosananku, tapi selalu saja mataku tak pernah berhenti menatap jam dinding berbentuk bulat itu.  

Tinggal sepuluh menit lagi, Ay. Batinku menenangkan gelisahku sendiri.  

Kubolak-balik lagi halaman demi halaman buku yang kudapatkan darinya sebagai kado tepat enam bulan kami memutuskan untuk menjalin cinta. Sebuah novel pengembangan diri yang sebenarnya isinya lebih banyak menampar diriku sendiri dengan keadaanku sekarang. Sebenarnya aku berhak marah padanya karena telah memberiku kado seperti ini. Tapi dasar aku. Aku hanyalah perempuan yang sekarang sedang buta akan cinta. Yang sedang tergila-gila dengan seorang laki-laki.  

 

Kudengar derap langkah kaki yang cukup berat. Ah, rupanya dia sudah datang. Lagi-lagi kulirik jam dinding dengan pinggiran warna emas. Lima menit sebelum waktu yang dijanjikan. Aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumku dengan tawa mautnya. Sebuah tawa yang kala itu pertama kali kulihat dan membuat aku seketika langsung jatuh cinta padanya.  

“Sudah lama, Ay?”  

“Sekitar 30 menit lah,”  

“Kebiasaanmu tak pernah berubah. Selalu datang lebih awal, bahkan terlalu awal dari jam janjian.”  

“Kebiasaan yang baik bukan?”  

“Tapi sangat cukup membuatku merasa bersalah karena membiarkan seorang perempuan cantik duduk sendirian di kafe seperti ini,”  

Pekerjaannya sebagai seorang pengacara membuatnya lihai memainkan kata-kata. Bagaimana tidak aku langsung tersenyum simpul mendengarkan kalimat tadi. Dan mendaratlah sebuah ciuman manis di bibirku. Hangat walau hanya beberapa detik saja.  

“Sebagai permintaan maafku,”  

“Mas, bikin malu aja. Ciuman bibir di tempat kayak gini.”  

“Malu karena tampangku udah gak muda lagi?”  

Aku tergelak mendengar pertanyaannya. Memang usianya tak lagi muda. Usianya kepala tiga menuju kepala empat, sedangkan aku hampir memasuki kepala tiga.  

“Hampir dua minggu kamu jadi orang yang paling sulit aku hubungi Ay, selain orang dari kejaksaan. Ke mana saja?”  

Tatap matanya yang tajam terasa seperti harimau yang tengah kelaparan membidik seekor rusa kecil yang kakinya sudah pincang. Terasa mengintimidasiku tapi aku merasakan keteduhan yang ada di baliknya. Cinta ini memang membuatku lupa segalanya. Bila orang berkata dia sedang menghakimiku dengan pandangan matanya yang tajam, justru aku merasa saat itulah dia menghujaniku dengan cinta lewat matanya.  

“Ay, nglamun lagi.”  

“Ups, kebiasaan lagi. Ngliatin kamu yang tambah hari kenapa tambah ganteng, Mas. Dulu ibumu ngidam apa, Mas? Aku juga mau resepnya biar pas aku hamil anak kita, anak kita bisa punya tatapan tajam seperti bapaknya. Hehehe.”  

“Ayu, Ayu. Kamu selalu bisa ngasih alasan. Balik lagi ke pertanyaanku, kamu ke mana aja?”  

“Pertempuran hati.”  

“Dengan ibumu lagi?”  

“Kali ini dengan dua kakakku, Mas.”  

“Lalu?”  

“Sempat membuat aku akan mundur. Makanya aku menghilang darimu. Aku ingin menenangkan diriku sendiri. Tapi aku rasa cintaku ini yang akhirnya membuatku kembali ingin bertemu denganmu. Kamu sudah ibarat candu buat aku, Mas.”  

Kemudian kurasakan aliran listrik menyengat dalam dadaku. Kulitnya yang dingin menyentuh kulit tanganku. Bahkan ada aliran gairah yang nakal ikut mengalir merasuki kulitku memaksa rambut-rambut halusku di sekitaran tangan berdiri.  

“Percaya, Ay. Aku gak akan pernah mengecewakan kamu. Tinggal sedikit lagi, kita akan bisa bersama selamanya. Tak ada yang mengganggu kita.”  

Genggam tangannya mengerat di tiap sela jemariku. Keyakinannya yang menggebu telah tertransfer pada jiwaku. Aku menemukan cahaya yang terang. Aku tahu dialah laki-laki yang layak aku tunggu dan aku perjuangkan untuk bisa hidup bersamanya. Meskipun hubungan ini jelas ditentang oleh keluargaku. Bukankah dulu ibuku sendiri yang berkata untuk memperjuangkan apa yang aku cinta.  

“Aku yakin, Mas. Bukankah menunggu adalah bagian dari sebuah cinta? Dan karena menunggu itulah, aku merasa cintaku padamu terus tumbuh dan tumbuh.”  

“Malam ini kita rayakan di mana?”  

“Hotel pertama kali kita bercinta. Aku rindu suasana di sana.”  

“Baiklah.”  

Malam ini aku sudah meyakinkan diriku sendiri. Ini jalan yang aku pilih untuk terus menunggu saat yang tepat bisa bersanding dengannya selamanya. Meskipun harus kulewati lagi enam bulan berikutnya, enam bulan selanjutnya, atau bahkan selamanya. Dengan seorang laki-laki beristri dan beranak satu yang telah menjanjikan padaku untuk segera mengurus perceraiannya dan sesegera mungkin menikahiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s