Posted in Love Actually

Bukan Pengkhianatan


Aku tercenung di depan pintu.Berusaha menahan debaran jantungku,yang berdegup kuat karena melihat mobil sedan milik Mas Alfa di garasi rumah.Kunci rumah yang telah tergenggam,kusimpan kembali kedalam tas.Pastilah tak lagi kuperlukan,setidaknya untuk saat ini.

Entah berapa lama aku berdiri di situ.Tepatnya untuk tetap berdiri,sementara benak terbelah dua keinginan.Di satu sisi ingin rasanya aku menerobos masuk dan menemukanmu,sementara di sisi lainnya tak mau beranjak,atau bahkan hendak mundur karena keraguan yang tak terkendali.

Kuperlukan beberapa helaan nafas panjang sebelum kemudian aku mendorong pintu dan mulai melangkahkan kakiku.

Kutemukan sepatu kanvas Mas Alfa di sisi sofa,dengan kaos kaki yang berserak.Selalu begitu,sepatunya tergeletak di mana dia melepaskannya.Kupungut kaos kaki itu,merapikannya di dalam sepatu yang kemudian ku letakkan didekat pintu.

Kusadari kemudian,kulakukan hal itu dengan bahagia.Sementara di waktu lalu,kusertai dengan grutuan dan omelan.Lalu aku menemukan Mas Alfa di depan televise,rebah bersandarkan bantal kebesarannya.

“Udah lama nyampeknya mas?”tanyaku atau lebih tepatnya basa-basi,yang kuucapkan dengan gugup.

“Baru saja.”Mas Alfa menjawab tanpa melihatku.

“Mau Rahma buatkan minum?”tanyaku menawarkan sesuatu.

Mas Alfa menggelengkan kepalanya sembari menunjuk gelas pada meja di depannya .

Tersadarlah aku,betapa bodohnya aku saat itu.Menawarkan sesuatu yang telah disediakan untuknya sendiri.Lalu aku berdiri dengan canggung.Nyaris kehilangan akal untuk melakukan sesuatu.Sementara matamu tak juga beranjak dari televisi,yang menurutku sangat membosankan.

Mata itu,aku serasa dalam pesakitan kala menatapnya.Tak ada apapun di sorot mata itu,seperti menyusuri lorong gelap tanpa cahaya.Sementara anganku berharap sekumpulan kunang-kunang datang membawa kangen yang samar dan tersipu.Harapan yang sia-sia,aku tak berhak lagi atas harapan semacam itu.

Maka kupilih cara paling aman,yakni menyingkir dari Mas Alfa.menuju kepompongku.Kurebahkan diriku dan bergelung seperti,larva dalam masa tidurnya menunggu sepasang sayap teranugrah baginya.

*****

 

Menjelang subuh aku terbangun dan menemukan diriku dalam cahaya redup lampu kamar yanag telah menyala,Aku sendirian.kutatap sisi ranjang disampingku,masih tertata rapi dalam posisi semula.

Lalu sesuatu menghampiriku,sebuah rasa terabaikan.Saat diri tak dikehendaki oleh seseorang yang kepadanyalaha aku berharap dan rinduku bermuara,maka yang ku dapati hanyalah kepedihan.

Dengan kepedihan itu kubawa diriku melangkah ke dapur.Mencari sesuatu yang dapat menawarkan kepedihan ini,entah berupa teh hangat atau cemilan kecil.

“Mau?”Tanya Mas Alfa setelah menatapku sekilas.Tatapan tanpa perasaan,tidak ada kebencian tidak pula rasa sayang.

Aku mengangguk sambil merebahkan diriku di kursi.

“Tanpa gula,”kataku.

“Ini kopi,akan terlalu pahit bila takbergula,”

“Tak apa,”jawabku lirih.

Mas Alfa menuangkan air panas didalam cangkir.Aroma kopi menguap bersamaan dengan uap asap bergerak samar-samar.Aku selalu senang melihat asap seperti itu.Melayang lembut,meliuk mengarah keatas kemudian menipis dan sirna dengan segera.Tanpa menyentuh cangkir itu,kutahu seberapa panas cairan didalamnya.Sebaliknya,pada saat bersamaan kurasakan betapa dinginnya tatapanmu saat ini.

“Hidup ini sudah pahit,mengapa pula harus ditambah kepahitan yang lain?”Sambil menyodorkan secangkir kopi itu.

Kalimat itu mencekatku,mengantarkan ku pada rasa bersalah yang meresahkan.

Kemudain kutanya pada diriku sendiri:

“Aku yang tak lagi berhak meminta kerinduanmu,apakah tak diperkenankan juga memintamu untuk melupakan kepahitan yang kusuguhkan?atau justu kedatanganmu adalah sebuah penyelesaian,yaitu perpisahan?”

 

Aku mendadak sangat cemas sekaligus merana.Kuteguk kopi dengan segera,rasa panas dan pahit mwengaliri lidah dan tenggorokanku,seperti tusukan-tususkan kecil yang pedih. Kutahan sakit itu dengan tak berdaya.

“Aku lapar, dan kau tidak punya apapun yang bisa kumakan agar perutku tidak protes.”

“Maaf Mas.”aku menunduk menekan rasa  bersalah, sekaligus malu.

Ku ingat beberapa lalu masih kusimpan beberapa jenis roti dan makanan sesuatu,yang bisa nya disukai Mas Alfa.Tapi ternyata aku harus menghabiskannya sendirian,karena dia tak pernah kembali sejak berangkat di sebuah pagi.

 

“Aku pergi,”Sambil menyandang ransel

“Ya,”setengah mengangguk,sambil menyampingkan perasaan yang aneh menghampiri.Tak biasanya dia membawa ransel ketika berolah raga dipagi hari.

Menjelang tengah hari, barulah ku tahu apa arti ransel itu.Seperangkat bekal untukmeninggalkan rumah.Atau tepat,meninggalkan aku.

Aku tak maumengakui itu.Aku tetap ingin berpikir bahwa dia hanya menyusuri  pagi dengan sepeda  dan akan kembali sesudah adrenalinmu tuntas. Maka aku tetap memasak hidangan kesukaan mu.Namun hal itu kembali terjadi,hidangan itu mendingin tak terjamah,untuk kemudian basi sia-sia.Seperti penantianku.

Begitu berulang-ulang entah untuk beberapa lama. Maka kuhentikan itu,sekaligus meredakan penantianku. Namun ternyata aku belum benar-benar bisa  berhenti menunggunya. Selalu ada resah yang samar setiap kali muncul suara-suara di ambang pintu.

Kecuali kali ini.Mas Alfa pulang ,sesudah penantian yang entah sejak kapan.

“Ayo ke resto di ujung jalan,kuingat Sandwitch nya sedap,”ajak Mas Alfa,menghentikan lamunanku.

Kami berjalan bersama menuju resto itu. Saat menyebrang jalan, ,Mas Alfa memeluk bahuku sebentar. Sangat sebentar,Karen sesudah itu langkahnya nyaris meninggalkan ku. Tapi sungguh aku tak akan melupakan pelukannya yang sebentar itu.

Ketika itu sungguh kuingin memintanya  menggandeng tanganku lagi. Namun berhakkah aku untuk permintaan semacam itu? Hatiku terasa sakit menyadari bahwa aku tak berdaya untuk memintanya melupakan pengkhianatanku.

 

*************

Terpatri jelas dalam ingatanku bagaimana pengkhianatan itu kulakukan. Purnama tepat  di atas kepalaku saat aku tiba dirumah dan Mas Alfa menungguku ditemaram ruang baca.

“Selarut ini kau pulang,dari mana saja kau.?”

“Reuni kecil Mas, beberpa teman sealmamater saling menemukan melalaui Facebook.”Jawabku singkat

“Kau bertemu dengannya?” Sekali lagi MAs Alfa bertanya.

Dan pertanyaan itu seketika melemparku kedalam hutan di  belahan dunia entah sebelah mana. Akar liar tumbuh menjalar kemana-mana,menjalar kesegalah arah serupa jerat kebimbangan yang menjeratku.

 

“Kau masih tampan serupa dalam anganku,”Bisik Frisco kepadaku

 

Bisikan yang membuatku tersipu dan membangkitkan gairahku lagi.Yang telah lama redup dalam urat darah. Dan sedangkan Mas Alfa tak pernah memujiku seperti itu.

“Anganmu hanya bohong belaka,”sergahku. “Tak ada lagi semua itu dalam ragaku,lihat tubuhku sudah tak setegap dulu”

“Tak seberapa,hanya serupa riak kecil di datar danau.”Bisikan Frisco itu berlanjut dengan kecupan dimataku,menyusuri dahi dan pipi untuk bermuara dibelah kelopak bibirku.

“Jadilah milikku,”Lagi Frisco berkata,permintaan yang merambat cepat seakan bergegas membentuk balutan hangat.Hangat berbalutan  itu akankah membawaku kenirwana?

 

“Dia memintaku untuk tetap tinggal,”jawabku kemudain dengan mata menerawang.Melepas pergi bayang semu nirwana yang tak kuhendaki.

“Lalu?”Suara Mas Alfa mendadak tajam meruncing.

“Aku ingin,Tapi…”

“Kau boleh kembali padanya bila itu maumu.Lakukanlah,”Tukasnya tajam,memotong tanpa member kesempatan padaku untuk menyelesaikan kalimat.

*******************

 

Tak juga hari-hari sesudah itu.Mas Alfa memilih menaiki sepeda kekantor,berangkat lebih pagi dan pulang larut.Tanpa menjamah sarapan maupun makan malam di rumah.Mas Alfa lebih memilih tidur di depat TV atau di ruang baca.Membiarkan tilam dan bantal disampingku dingin terabaikan sampai pagi tiba.Tiap kali pula, dingin menjalariku,membuatku menggigil tanpa balut kehangatan yang dulu  merengkuhku untukku.Kemudian kau benar-benar pergi pada hari itu.

Ingatan itu membuat kepedihan yang mendalam.Aku terjebak di kepedihan itu,mendadak tak mampu melangkah.Langkahku  terhenti ,sementara Mas Alfa semakin jauh.Dan hingga beberapa saat kemudian dia sadar bahwa aku tertinggal jauh.

Mas Alfa berhenti dan kita bersilang tatap diantara jarak terbentang,dibawah cahaya lampu jalan yang menerangi remang langit senja.Menyelusup di antara ranting Akasia yang menjalar dan tumbuh disepanjang jalan setapak.

Apakah dia meungguku atau jarak ini yang diinginkan oleh Mas Alfa?aku mengigi oleh rasa takut akan mendapatkan jawaban yang takkuinginkan.

Lalu,Mas Alfa mendekat.Pada saat itu aku tak hendak berlama-lama dalam ketidak pastian ,dalam sesuatu yang mengambang.Namun aku juga taka mu melewatkan kesempatan yang ingin ku raih.

“Kalau aku memintamu untuk melupakan pengkhianatan itu, apakah itu berlebihan?” Tanyaku dengan nada gemetar yang tak tersembunyikan.

Lurus tatapanmu padaku,seakan membelahku menjadi sepihan kecil yang tertiup angin berserak tak tentu arah.

“Aku tak bisa melupakan tapi,aku bisa memaafkan,”Jawabnya

“Tapi mengapa sikap mu seperti tak mau memaafkan?” Sergahku seperti gugatan.

“Ku tak pernah memintanya.”

“Lihatlah kau bahkan membiarkanku tersengal-sengal mengikuti langkahmu.”

“Bukan begitu,kau memilih tidur dikamar ketika aku datang,kau tak menanyakan kabarku. Kurasa itu semacam isyarat kau tak menghendaki ku kembali.”dengan suara yang lirih dan menyimpan keraguan yang menyakitkan.

“Kau hanya memelukku sebentar.”

“ Sebelum kau tepis,dan itu membuatku sangat sakit hati.”

“Aku sebenarnya tidak berkhianat,tuduhanmu terlalu dini ,bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.”

“Apa kalimat yang belum selesai itu,?”

“Bahwa sudah terkubur keinginanku untuk bersamanya,karena aku telah memilikimu dan pilihanku padamu tak akan pernah kusesali.Kau tahu itu kan?”

“Begitukah?”Mas Alfa Nampak terkejut.

“Mengapa kau meragukan itu?”

“Betapa tidak,kau begitu nelangsa ketika itu,ciri khas patah hati. Dengan ekspresi sejelas itu, Pasangan mana yang mana bertahan mendapati belahan jiwanya patah hati demi mantan kekasihnya dulu?”Mas Alfa berkata dengan nada gugatan yang tertahan.

“Aku tidak patah hati,hanya terjebak kenangan sesaat,tapi kau…”

“Apakah kita akan bertengkar disini.?”

“Bila itu maumu.”

“Bagaimana kalau time out dulu?aku lapar sekali,apalagi membayangkan Sandwitch yang sedap itu.”Sambil berpaling menatap wajah senja.

“Bukankah Sandwitch buatan ku lebih enak?”

“Iya sih,tapi tidak selalu mudah membujukmu untuk memasaknya.”

“Kau tahu aku,kadang-kadang kuperlukan bujukan semacam itu.”

“Begitukah? Nah, kalau aku memintamu untuk memasak  itu Sandwitch sebagai menu sarapan besok pagi, apakah kau bersedia membuatkannya untukku?” Dengan nada memohonnya

“Alfarizhy Argawan,kalau aku memintamu menempatkanku didalam pelukanmu, apakah kau bersedia?”Kataku dengan sirat permohonan yang sama.

“Rahma Dwi Rangga tentu,aku akan melakukannya sekarang juga.”

 

Lalu dia meraihku,melingkarkan tangannya di bahuku.Dan kutemukan diriku serasa berada di sebuah kepompong yang hangat menentramkan.Balutan hangat membungkusku dari hutan hujan yang tempiasnya mendera tak henti.

“Aku menempatkanmu di dalam hatiku”Bisiknya dengan suara yang lembut,namun bergema jauh pada seluruh dinding dengarku, kusimpan kuat dalam benakku. Dan kupastikan pada diriku sendiri, Untuk tidak mengulang “PENGKHIANATAN”,sesamar apapun khianat itu.

 

Langkah kami berlanjaut setelah itu menyusuri trotoar yang bernaung pepohonan Akasia.Dihujani cahya temaram senja di langit Ausie dan beberapa kuntum bunga kuning melayang menyentuh kami,lalu jatuh betebaran di sekitar langkah kaki.

Indah sekali,seakan menjadikan kami pasangan yang paling bahagia.

  From Rahma with Love…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s