Posted in Love Actually

Stairway to Heaven


Aku masih berkutat dengan fikiran ku,menerawang kembali cerita masalalu ku.Sedangkan bang  Rudi masih menatapku dengan penuh harap.“ Jangan datang lagi bang Rud.” Kataku datar tanpa berani menatap sorot matanya.”Kumohon jangan kau cari aku lagi.”
“Kau tidak pernah memberiku kesempatan”,sergah bang  Rudi.”Aku hanya ingin kita berdua menikah di Ausie.”
“Jangan ,Bang itu bukan solusi.Aku belum bisa meninggalkan bunda ku sendirian,Kamu tau sediri kalau aku sudah tidak punya ayah lagi.Ini nyata Rud,sedangkan aku belum bisa membahagiakan bundaku,”Aku bertahan.

“Aku juga nyata,aku selalu ada untuk mu.Rudi mendesak.Tapi  jika kau menolak  terpaksa aku harus menikah dengan perempuan pilihan mama ku.”menunduk lesu

Itu pertemuan terakhirku dengan bang Rudi, di restoran.Kami berpeluk erat dan menangis.Bukan mudah untuk ku mengambil keputusan ini tapi,mau bagaimana lagi aku harus menyelamatkan abang dan adik ku.
Aku anak kedua dari 3 bersaudara.Ayah ku sudah lama terkena penyakit jantung dan itu lah yang mendorongku kuliah di kedokteran ,kelak aku ingin merawat ayah ku sendiri.Tapi,tuhan berkehendak lain,baru setahun aku kuliah di kedokteran ,Ayah sudah meninggal setelah modal usaha toko kecilnya habis untuk berobat.

Waktu terasa cepat berubah.Bunda minta kuliah ku berhenti,bahkan akan menjodohkan ku dengan orang yang tidak ku kenal.Ia pengusaha yang menurut Bunda akan membantu membiayai abang dan adik ku.Usianya lima belah tahun di atas ku.”Menikahlah Rahma,”Bujuk bunda  .”Kalaupun kau masih ingin tetap kuliah,tentu dia tidak keberatan.

                                                                                 ****Suster Arin berdeham dari mejanya.Aku tahu dia pura-pura serius mencatat tapi memperhatikan aku dari tadi.

“ Rud,Aku harus berbuat apa untukmu?”bisikku.
Kudengar pintu di buka,disusul langkah dari belakang ku.Tergesa kuhapus air mataku dan pura-pura membersihkan kaca mataku dengan tisu
Siang,Dok”Dokter Alya menyapa. “Hei ,mata mu merah.Kau kurang tidur .”
“Dari kemarin sore Dokter Rahma belum pulang,”Suster Arin menyelak dari mejanya.
“Lah,bukan nya kamu nggak piket hari ini kan ?”
Aku tersenyum sebisanya,Kulambaikan tangan ku agar Dokter Alya mendekat duduk di hadapan ku.
“Apa pendapat mu Dok?”kataku sambil menyodorkan berkas medical record yang sejak kemarin mengacaukan fikiranku.Berkas itu ku pinjam dari bagian perawatan dan fotocopy.
“Pasien mu?” balas Dokter Alya.
Aku tak menjawab.Dia perhatikan berkas riwayat penyakit itu.Lengkap dengan mulai dari foto rontgen thorax,gastrointestinal  lambung dan usus,pemeriksaan darah,CT scan,MRI dan lain-lain.
“Ini serius,Prognosa Prof bagaimana?”kata Doker Alya.
sambil  melihat paraf dari Prof.Ahmad dibawah berkas itu.
“Sama dengan komentar mu.Serius.”
“Ini keluargamu.?”
“Bukan,eh,iya keluarga jauh.”
“Keluarganya sudah tahu.?”
Aku mengangguk.Keluarga nya hanya tahu tumor otak kecil.Aku asisten Prof.Ahmad dan tentang ini kami sudah diskusikan.Ada indikasi Rudi mengidap tumor intracranial yang bisa menyerang oaring pada semua umur.Bisa merupakan tumor premier yang bersumber dari jaringan otak itu sendiri dan mungkin sudah ada ketika dia masih janin.Atau tumor sekunder dari penyebaran metastase.Seperti tumor paru-paru dan saluran pernapasan.

“Kelihatannya sel jaringan giloma ini astracytoma.”kata nya perlahan
“Iya yang kukhawatirkan itu adalah tumor cerebellum,astracytoma di otak kcil.Kalau benar ,ini bisa berkembang cepat menyerang otak kecil.”
“Hmm,”Dokter Alya bergumam.”Nanti akan ku diskusikan dengan Prof.dan kau pulanglah .Istirahat.”

“Iya Dok.Terima kasih,”sahutku sambil membereskan berkas-berkas itu.
Beberapa kali aku berpapasan dengan Ibu Rudi,tapi beliau tidak mengenali aku lagi.Karena penampilanku yang sudah berubah 100%.
Aku masih ingat ketika beliau mengusirku dari rumah nya saat mengetahui hubunganku  dengan Rudi.Beliau memaki –maki dan menaparku di depan Rudi.Tapi,sekarang aku sudah melupakan dan memaafkan tante Rukmi.

*****
Sore-sore Qinan mencegatku,Ya dia adalah Istrinya Rudi dan sekarang lagi bersama anak keduanya.
“Tolong Dok ,bagaimana menjalaskan ini kepada ibu mertuaku? Sudah tua dan lemah.Untuk besuk kesini saja audah saya larang,tapi beliau bersikeras.”Aku sarankan sedikit berbohong demi kebaikan mertuanya sendiri.Bilang saja pernah jatuh atau perlu perawatan yang cukup lama.

“ Hmmm anakmu cantik sekali.Ini yang bungsu ya.?siapa nama non? Riza ya,Kuliah dimana ?”
“Masih kelas 3,Om….eh Dokter…!”jawab Riza  segera meralat setelah mamanya minyikut perutnya.
“Nggak apa-apa kok,panggil Om aja,”Kataku tersenyum,Anak ini memang cantik.Anaknya yang laki-laki juga terlebih lagi,jauh lebih tampan dari Ayah nya.
“Bang Aldo kuliah di Bandung.”
“Pantesan om jarang ngelihat dia.”

Obrolan singkat di koridor  dekat ruangan Rudi di rawat,terdengar seperti basa-basi saja.Tapi mampu membuat aku bergegas ketoilet dan membiarkan bendungan di mataku bobol.Aku menangis.
Sungguh.Qinan tidak mengetahui bahwa separuh jiwaku terbaring lemah bersa Rudi.Aku ikut sakit.Seakan ikut merasakan tumor itu bertumbuh cepat menyerang otak kecil,juga dapat merasakan sakit kepala yang amat sangat.

“Rud,kenapa kau harus datang kerumah sakit ini?dan kenapa kita harus bertemu lagi?” aku menangis di toilet.
Namun detik berikutnya aku justru bersyukur.”Tuhan,terima kasih.Kau izin aku merawat orang yang ku sayangi di sisa umurnya.”

********

2 Bulan Kemudian….
    Dua bulan berlalu dan semua berubah cepat,Rudi masih tergolek lemah.Bekas bedah tampak membekas jelas di botak kepalaya.Gundul licin bukan hanya di cukur,tetapi juga karena rontok akibat kemotrapi yang sudah ketiga kalinya.
Aku sudah berterus-terang kepada Prof.Ahmad mengenai masa laluku dengan Rudi.Kemarin sore Prof.Ahmad menyarankan aku  melakukan apa saja yang bisa menyenangkan hati Rudi dan mebuatnya semangat  hidupnya bangkit kembali.Aku menangis saat Prof.Ahmad mengucapkan itu sambil mengusap bahuku.Desember pun tiba,Rumah sakit bernuansa Kristiani ini berhias ,meski aku muslim aku sangat suka sekali melihat pohon natal yang menempati setiap sudut ruangan,dan dihiasi lampu yang kerlab-kerlip.
Ada pohon natal keci yang manis dan unik di sudut kamar Rudi.Bukan dari cemara plastic artificial biasa,melainkan dari barang-barang bekas.Kayu  bekas,botol  softdrink,sedotan plastic,tutup botol dan lain-lain.Pohon natal ini  terkurung dengan tali nilon yang memantulkan efek indah jika terkena sinar lampu.Fantastis ini pasti kerjaan Aldo yang mendalami interior desain disalah satu Universitas Bandung ,dan berkolaborasi dengan asesoris Riza yang kreatif.Ku dengar Prof.Ahmad mengizinkannya agar pohon natal  unik ini boleh diletakkan di sana.
Lewat pukul sebelas aku berangkat kerumah sakit.Tiba disana para perawat sudah terbagi dalam beberapa kelompok mereka menyalakan lilin di taman.Lalu aku bergegas ke bangsal tempat Rudi.Kulihat Qinan berserta kedua anaknya,Aldo dan Riza menyanyikan lagu natal.
“Tuhan memberkatimu,Bang Rud,”bisikku perlahan .”selamat hari natal.”
Ia berusaha duduk menyambutku,menatapku dengan tatapan sendu.Bibirnya gemetar,ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sampai terucap,aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengatakan aku harus keruang piket.
Diruang jaga aku mengobrol dengan Dokter  Albert yang piket disitu.Kudengar sayup suara berisik dari kamar.Kuajak Dokter Albert kesana.Ternyata berasal dari bangsal Lil, bang Rudi meminta  istrinya pulang untuk menemani ibunya dirumah.

“iya sih,kasihankan orang tua harus melewatkan natal bersama pembantu dirumah,”kata dokter Albert.Qinan menurut lalu berkemas pulang.
“Om titip Papa,ya,”kata Riza pamit kepadaku
“Ya tenang aja,Dokter Albert kan juga ada disini,”jawabku
Belasan menit mereka pulang. Aku masih menonton TV diruang jaga.Suara burung malam terdengar mengicau memilukan dari arah pohon Akasia di ujung taman.Kata Pak Yanto tukang  sapu taman bilang itu adalah suara burung “PENGABAR”,bahkan burung  “PENJEMPUT”

Aku mendengar  telpone  diruang jaga.Ternyata dari kamar Bang Rudi ,menanyakan apakah aku masih di ruang jaga.Bang Rudi minta aku untuk ke kamarnya.Aku bergegas kesana,Bang Rudi minta aku membawanya dengan kursi roda keluar.Ia ingin melihat lampu natal dan bintang di malam natal.
“Aku ingin melihat semuanya,aku ingin kau membawaku melihat bintang.Aku mau tunjukan dibintang mana aku nanti.”
Seketika itu aku merinding mendengarnya.Kupanggil dokter Albert untuk bantu menjelaskan bahwa itu tidak boleh.Udara malam diluar tidak baik untuk kondisinya sekarang yang begitu lemah,tapi dia bersikeras.
“Coba kau hubungi Prof.Ahmad,”Usul Albert,dan aku sependapat .Aku nekat menelpon kendati sudah lewat tengah malam.
“Dia bersikeras Prof ,”kata ku menjelaskan
“Okey.Bawa saja  tapi,hanya sampai di beranda bangsal dan jangan lama-lama.Buat hatinya senang dan bahagia.”
Perkataan terakhir Prof menerobos jauh ke relung hatiku,satu kalimat pendek itu sekarang berputar-putar dalam benakku.Apakah ini karena dia akan ….?Oh tuhan kumohon  jangan sekarang.
Dokter Albert menaikkan kerah jaket bang Rudi lalu membukaka pintu .Kubawa dia keluar,ia meminta ke tengah taman.Kali ini aku menolak keinginannya.
“Tidak,kita hanya diteras sini.Dari sini abang bisa melihat semuanya.”
Dia masih mencoba membantah tapi,aku pura-pura tidak mendengarnya.Kudorong kursi rodanya beberapa meter saja di muka bangsal.
“Akhirnya kau tidak jadi menikah,”Kata bang Rudi tiba-tiba.
“Ya,tapi aku bahagia,”jawab ku lirih.Memang Abangku yang menikah dengan wanita itu.Dia bilang terlalu sayang kalau kuliah ku dihentikan.Wanita itu yang membantu biaya keluargaku.Sisanya aku ,dengan berkerja menjadi guru privat sambil tetap kuliah.

“Aku sudah menikah dengan Qinan dan anakku sudah dua,tapi tetap saja aku masih mencintai mu.”

Aku hanya tertawa kecil,berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bersenandung pelan lagu Selimut hati  dari Dewa19.Dan Bang Rudi mengikuti.
“……Aku akan menjadi malam-malammu….
kan menjadi mimpi-mimpimu…..”
Ternyata dia tak mengikuti ku hingga ke refrain.Di tengah lagu ia mebelot ke lagu lain.Aku mencoba menyimak lagu apa.Ternyata lagu baru.

   “…..Diantara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang…..
Diantara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang….”
suara Bang Rudi terdengar semakin jelas berdendang,sementara di sudut matanya ku pergoki basah berkilau.

“…..Takkan ada selain kamu dalam segala keadaan ku…
Cuma kamu ya hanya kamu yang s’lalu ada untukku…”
Aku menimpali dan tak terasa air mataku mengembun.

“Hehehe,…Kau menangis!”Bang Rudi  menunjukan jarinya ke arah mataku.
“Nggak !” aku menyembunyikan wajahku.”Kau yang menangis”Elakku
“Ya sudah aku ngaku deh,tapi kamu juga kan?”Dia tertawa keras.”KAu jelek kalau menangis,jelek sekali.”
“Ihh kau ini udah sakit ginipun masih saja bisa mengejek orang.”
“Hahahaha….sebenarnya aku tidak sakit
“Tidak sakit kata mu?Sudah kurus kerempeng begini gundul lagi….!”
“Sebenarnya aku sudah mati,tapi hidup kembali karena ada kau.Karena ku tahu kau masih ingin melihat aku,hahahah….karena kau masih mencintai ku.”
Aku  balas tertawa sambil air mataku tak lagi kusembunyikan. Aku bisa melihatnya tertawa renyah lagi seperti dulu.

Kami masih saling mengejek dan menertawai.Sementara suara burung “PENJEMPUT”masih berkicau di rimbunnya pohon Akasia,dan kerlip bintang tak mampu membuatnya urung menyampaikan kabar.Entah kabar untuk siapa.Angin malam mulai menusuk tulang sumsum.
“Rahma aku ingin tidur disamping mu.”Suara bang Rudi terdengar sangat berat.
Lalu bang Rudi menyenderkan kepalanya kebahuku.Terasa sangat damai,aku dapat merasakan hangatnya tubuh bang Rudi lagi.Setelah beberapa menit ketika aku hendak mengajak nya masuk keruang inap,ternyata bang Rudi  telah menghembuskan nafas terakhirnya.Aku menangis tertahan sambil memeluknya,menumpahkan semua air  mataku, rasa bersalah membuat hati tambah sesak karena dahulu aku meninggalkannya.

********
  “Dinginnya malam mulai membekukan hati…
ketika aku larut dalam kesedihan,ketika aku menanti entah sampai kapan…
…Hanya waktu akan memberi arti dan jawaban
kapan aku harus pergi…atau kapan aku harus kembali kepada-Nya…
Kenanglah s’lalu…
kebersamaan juga Kebahagian satu yang pernah ada…
saat kita saling membahu demi cinta yang terpahat dihati…
Yang hanya dimengerti oleh jiwa kita yang terluka…”


   Itulah status terakhir yang aku baca pada akun jejaring social Facebook milik Bang Rudi.
Tuhan jika ini ingin mu,berikanlah tempat terindah untuk orang yang paling ku sayangi setelah kedua orang tuaku.Berikan kedamaian di dalam tidur panjangnya,memberikan cahaya dalam gelap dunianya.
– – E n s – –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s