Kenalkan, Kades Koruptor Jujur dari Karanganyar

dgh

Endah Rahmanto Hermansyah, 41 tahun, tidak akan pernah lupa peristiwa yang dia alami akhir Februari 2011.

Di depan majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi di Semarang, mantan Kepala Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, ini membacakan enam lembar kertas berjudul “Pengakuan seorang koruptor” dalam sidang dengan agenda pembelaan.

Alhasil Endah bukannya membela diri dari tuduhan menggasak Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Klodran 2007-2009 sebesar Rp 285,9 juta. Dia justru mengakui bahwa dia memang koruptor dan pantas dihukum seberat mungkin.

“Saat itu saya sadar sepenuhnya saat mengaku sebagai koruptor dan minta dihukum seberat mungkin,” ujar Endah ketika ditemui Tempo di rumahnya, RT 2 RW 1, Klodran, Colomadu, Karanganyar, Rabu, 22 Mei 2013.

Tindakan Endah tergolong langka. Di tengah maraknya korupsi di Indonesia dan penyangkalan dari para tersangka korupsi, dia justru mengakui bahwa dia seorang koruptor. Padahal nilai korupsinya tergolong kecil, jika dibandingkan nilai uang negara yang disikat koruptor kelas kakap yang bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

Bapak dua anak ini tidak serta merta berani tampil di depan persidangan dan mengaku sebagai koruptor. Dia mengatakan butuh waktu selama 7 bulan untuk memikirkan dampak dari perbuatan korupsi yang dilakukan.

Dia ditahan di rumah tahanan klas I Surakarta selama menghadapi persidangan. Saat ditahan, beberapa koleganya berkunjung dan menyarankan dia membuka borok korupsi. “Awalnya saya bimbang. Tapi lantas yakin untuk mengakui perbuatan dan menanggung semua kesalahan,” katanya.

Dia bersedia menyatakan diri sebagai koruptor karena ingin dicintai Tuhan. Ia meyakini Tuhan akan memberikan balasan yang baik jika dia mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

Sebelum menulis surat pengakuan, Endah sudah berkonsultasi dengan pengacara yang ditunjuk pengadilan. Si pengacara kaget ketika Endah menolak dibela dan ingin mengakui semua kesalahan. “Tapi pengacara mempersilakan saya untuk mengakui sebagai koruptor,” ucapnya.

Ia menulis tangan pengakuan itu dan meminta bantuan seorang kolega untuk mengetik komputer. Hingga akhirnya dia divonis 1 tahun 2 bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan pada pertengahan Maret 2011.

 

Courtesy of Yahoo.com

WANITA KU, TULANG RUSUK KU

 

 Gambar

Mereka selalu bilang bahwa cinta itu sederhana. Mungkin. Karena yang aku tahu juga bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana mengulaskan senyum di pagi hari. Tapi semua itu tampak tak mudah saat aku membuka mata, bahkan saat aku membuka jendela, menunggu sinar matahari yang akan menguapkan embun pagi. Semua menjadi tak sama sekarang, karena aku lagi-lagi harus menjalani hidup dengan kepalsuan.

Kamu tahu, tiga bulan ini bukan waktu yang mudah bagiku. Tiga bulan itu terasa seperti bertahun-tahun hidup di dalam dunia yang aku takuti. Bukan, bukan seperti yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng tentang dunia yang kejam. Bukan tentang panggung sandiwara yang sarkas itu. Ini adalah tentang realita, saat aku untuk memilih kodratku.

Aku tahu kamu mencintaiku. Aku tahu itu. Tapi ini tetap saja tak mudah bagiku. Hidup satu atap dengan orang yang tidak ada dalam imajinasiku tentang sebuah keluarga. Aku memang tak mendapatimu saat mata ini terbuka karena kamu sedang membuatkanku teh manis di dapur. Dan lagi-lagi aku harus menghembuskan nafas kecewaku.

Kamu datang dengan senyum terbaikmu dengan secangkir teh manis yang masih mengepul, menebarkan aroma teh melati ke seluruh ruangan ini. Mengalahkan aroma basah dari luar, aroma embun yang sedang menunggu datangnya cahaya matahari.

Aku mencoba membalas senyummu. Aku tak mau kamu sedih karena melihat rautku yang tak segar pagi ini. Benar, aku tak bisa memicingkan mataku semalam. Aku dirudung sejuta rasa. Rasa yang melanda semenejak kita berdua mengikrarkan janji hidup bersama, dalam suka dan duka.

Semua itu karena hal klasik yang melanda orang sepertiku. Usiaku yang hampir menginjak kepala tiga telah membuat orang tuaku resah. Selalu saja sama, gunjingan para kerabat dan juga tetangga yang mengusik ketenangan hari-hari orang tuaku. Tentang aku yang sudah mapan tapi belum juga ingin menikah.

Ingin. Aku juga ingin menjalani kehidupan normal seperti kebanyakan yang lain. Aku juga ingin mengajari anakku naik sepeda, aku ingin mengajak putriku membeli baju pesta. Tapi ini tak mudah. Aku selalu dilanda rasa sepi bila tak berada dekat dengan nya. Wanita yang telah membuatku tak bisa lepas dari dekapannya yang begitu hangat.

Sampai akhirnya kamu dikenalkan ibuku. Katanya kamu adalah putri dari kerabat yang tinggal di kota kecil itu, yang mengahabiskan masa remaja di pesantren. Kamu tak tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku malu. Aku malu pada tuhan yang telah begitu baiknya padaku menganugerahkan jodoh sepertimu. Kamu tetap melayaniku selayaknya seorang isteri. Padahal aku belum pernah menyentuhmu sejak dari malam pertama yang katanya seperti nirwana itu. Aku hanya bisa mengecup keningmu, meskipun yang ada dalam pikirku adalah wanita itu.

Kamu tak tahu betapa takutnya aku bila kamu katakan yang belum pernah terjadi itu saat mertuaku yang penuh harap itu bertanya apakah kamu telah mengandung. Aku takut. Tapi rasa takut itu tak bisa membuatku ereksi untuk menghamilimu. Rasa takut itu justru membuatku terus saja memicingkan mata sepanjang malam, membuatku pusing saat bangun tidur.

“Diminum dulu Mas, teeh manisnya. Mumpung masih hangat.”

Lagi-lagi suara lembutmu kamu lontarkaan padaku. Suara yang sama sejak pagi setelah ijab kabul itu. Aku menghampirimu, meraih cangkir itu dan menyesapnya pelan. Ah, memang masih hangat, tapi tak kunjung menghangatkan hatiku, meskipun ulasan senyummu tak pudar sedikitpun.

Aku menghempaskan tubuhku di atas kursi. Berusaha mengatur nafas. Aku bahkan tak berani menoleh ke arahmu sekarang. Aku malu. Aku begitu malu karena kamu masih saja tersenyum tulus padaku.

“Kenapa kamu tak meninggalkanku, Ra… setelah tahu yang sebenarnya?”

Aku beranikan membuka mulutku sekarang. Tak tahan aku harus begini. Kadang aku ingin kamu meninggalkanku, agar kamu terbebas dari derita ini. Mana ada istri yang rela menemani suami yang tak pernah menjamahnya? Mana ada istri yang tahan dengan sikapku yang beku? Aku yakin kamu sama seperti wanita lain yang punya hati yang rapuh. Aku tahu kamu mengharapkan kehangatan dari seorang suami. Tapi sayangnya itu tak kamu dapatkan dariku.

“Aku istrimu, Mas. Aku telah berjanji pada tuhan untuk mendampingimu dalam kondisi apapun. Apapun dan bagaimanapun kamu, kamu tetap suamiku, Mas, imam dunia akhiratku…”

Lagi-lagi aku ingin berteriak, tapi semua teriakan itu tertahan di dadaku dan sekarang ingin meledak.

Kenapa kamu begitu bodoh? Aku tak pernah mencintaimu dan takkan pernah bisa. Aku hanya mencintai wanita itu. Aku hanya merasakan kedamaian dan kebahagiaan bersama wanita itu, kamu tahu itu. Dan aku hanya bisa berputus asa menanggapi kegigihanmu.

“Kamu berhak mendapat seorang suami yang lebih layak, Ra. Bukan suami sepertiku yang seorang… ...”

Aku menutup wajahku. Badanku bergetar saat kamu memegang pundakku, lantas mengusapnya dengan lembut, memberikan sedikit pijatan di sana, berusaha menyamankanku. Padahal kamu tahu usaha itu takkan pernah berhasil. Aku merindukan usapan dari wanita itu, bukan dari kamu. Aku merindu dekapan dadanya dan bisa bermanja-manaja di sana. Menumpahkan semua apa yang ku rasakan.

“Tuhan itu tak pernah salah menyisipkan rasa, Mas. Bukankah ketika tuhan berkehendak, Tuhan tinggal bilang, ‘kun fayakun’? jadilah, maka jadilah. Dan bukankah Tuhan itu mendengar do’a seorang ibu? Tapi do’a seorang istri itu juga didengarkan oleh Tuhan, Mas. Dan aku adalah seorang istri. Aku akan mintakan yang terbaik untuk suamiku.”

Dan kalimatmu itu telah berhasil membuat mataku mengabut. Kamu terlalu tulus sampai-sampai aku berpikir bahwa Tuhan tak adil terhadapmu. Harusnya kamu mendapat seorang lelaki gagah. Bukan seorang lemah sepertiku, seorang lelaki yang menjadi bahan cemoohan karena sikapku. Kamu harusnya mendapatkan seorang lelaki yang bisa membimbingmu, bukan aku yang bahkan tak pandai mengaji ini.

“Sekarang Mas ambil air wudlu dulu. Rara siapin dulu sarung dan sejadahnya. Kita shubuh dulu ya. Abis itu kita belajar tadarus lagi…”

Ah, tuhan itu terlalu baik pada mahluk durjana sepertiku. Tuhan mengirimkan seorang bidadari untuk seorang yang telah dilumurkan lumpur oleh iblis, bukan, lumpur hitam itu kubalurkan oleh diriku yang tak bisa bertahan dari godaannya yang menawarkan kenikmatan semu.

“Aku tak minta banyak hal sama Mas. Aku cuma minta keteguhan hati Mas. Biarkan campur tangan Tuhan membantu kita, Mas. Dan aku akan tetap menunggu campur tangan Tuhan itu.”

Tangan halusmu menarik lembut tanganku, mengahantarku ke kamar mandi. Membersihkan ragaku dengan air wudlu sebelum menghadap-Nya. Dan baik hatimu untuk mengajariku mengaji telah mencampurkan air wudlu itu dengan air mataku.

Ah, aku harus bergegas. Fajar sebentar lagi muncul.

Sajadah tergelar, sarung terlipat rapi diatasnya, menungguku untuk melilitkannya ke pinggangku. Dan entah kenapa setiap kali aku melihatmu mengenakan mukena, tampak cahaya itu terpancar dari wajahmu. Apakah itu karena senyum tulusmu? Entahlah. Mungkin Tuhan telah menaburkan sebagian cahaya rembulan itu di wajahmu.

Kamu kembali mengangguk, membuyarkanku dari kekaguman atas pancaran wajahmu yang meneduhkan, dan aku berjalan sedikit ke depanmu. Mengangkat kedua tanganku dan mulai meminpinmu untuk mendirikan sholat. Melafalkan surat-surat pendek dengan terbata-bata, karena baru tiga bulan kamu mengajariku.

                                                                        ***                                             

Kedua tangan meraup wajahku, mengamini doa-doa yang sebenarnya tak tulus itu. Apa aku tulus saat berdoa agar aku kembali ke jalan kelumrahan? Entahlah. Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab entahlah.

Dan sekarang jemarimu begitu indah tertatih-tatih dengan tongkat kecil, menunjuki huruf-huruf arab yang seperti cacing itu. Tapi berkat kesabaranmu aku mulai terbiasa membaca dari kanan ke kiri. Sampai aku memintamu untuk membacakan dengan lagammu yang indah, melanjutkan dengan terjemahannya yang menyusup pelan-pelan ke dalam hatiku.

Kamu masih membacanya dengan senyum saat aku berjalan ke arah nakas, mengambil sebuah kotak kecil yang terbalut pita. Menghampirimu dan memilih rebahan di pahamu. Kamu tersentak kaget dan mengakhiri bacaanmu, menutup mushaf yang tak pernah berdebu itu. Matamu terbelalak saat kuangsurkan kotak itu. Dengan ragu kamu membukanya. Dan aku begitu menikmati raut bingungmu, jemari bergetarmu dan gerak saat gigi atas menggigit-gigit bibirmu. Kamu belum terbiasa dengan ini, aku tahu itu.

Aku bangkit. Menunggu momen saat kamu terkesiap melihat apa yang ada di kotak itu. Benar saja, matamu membulat sempurna saat itu, kamu menatapku tak percaya.

“Sekarang, bolehkah aku mengucapkan selamat ulang tahun untuk tulang rusukku?”

Kataku sambil merentangkan kedua tanganku. Kamu mendekapku erat, dan mulai sesenggukan. Aku mencium keningmu dengan lembut, seraya berdo’a dalam hati agar rasa itu segera tumbuh dengan segera, agar aku bisa menjadi seorang imam yang bisa membahagiakanmu.

Aku mungkin memang bukan seorang suami yang baik sekarang. Tapi aku tak akan pernah melewatkan hari ini, hari dimana Tuhan telah menurunkan seorang bidadari untukku. Hari dimana Tuhan telah menciptakan perhiasan dunia yang terindah, mengalahkan indahnya zamrud dan memesonanya safir biru. Yang terbuat dari tulang rusuk seorang pria.

Aku lantas bangkit dan segera mengunci pintu dan juga menutup jendelaku, segera mengibaskan gorden itu agar serangga luar tak bisa melihat ke dalam sini.

“Dan sekarang, apakah aku boleh menjalankan tugasku sebagai seorang suami?”

Inilah tekadku. Aku harus mencoba saat ini. Bukankah Tuhan ada membantuku lewat campur tangan-Nya? Kamu tampak tersipu sambil mengusap pipimu yang basah. Kamu menjadi kikuk sekarang. Tapi, apa aku sudah kesiangan untuk ‘menjadi seorang suami’ sekarang? Hey, bukankah serangan fajar itu begitu dahsyat? Itulah yang sering diceritakan teman sekantorku. Bahwa alam telah membuat seorang lelaki menjadi begitu hebat di pagi hari.

Aku melihatmu terkesiap saat aku mulai menanggalkan helaian yang menutupi ragaku, menyisakan kain tipis yang menutupi bagian intimku. Aku segera menepuk kasur yang kududuki, dengan kerlingan mata padamu.

Kamu dengan ragu mulai bangkit, berjalan dengan kikuk ke arahku. Dan lagi-lagi kamu terkesiap saat aku menarik tanganmu sampai kamu terjatuh di dadaku, dan kamu terkekeh pelan saat tonjolanku mengganjal perutmu.

“Ayolah Ra.. Ada lilin yang harus segera Rara tiup sekarang..”

Kamu mulai memutar bola matamu, dan sungguh, itu terlihat indah sekali. Lalu sunggingan senyummu membalas kerling nakalku. Kusibakkan selimut itu tapi kamu kembali menariknya.

“Ah, aku lupa, aku belum mengajari Mas salam ‘itu’, sebentar..”

Kamu beringsut dan aku menghela nafas. Lalu aku mulai mengikuti apa yang kamu lafalkan. Tapi belum juga selesai, aku sudah mendaratkan bibirku dengan tergesa, berusaha menikmati keindahan ini, keindahan yang dulu sempat dikenalkan oleh wanita itu.

Dan sekarang kusibakkan selimut beludru ini, agar kalian tak melihat gerakan indah yang kami sertai dengan lenguhan. Agar kalian tak melihat gigitan, jamahan, remasan, dan jerit tertahan itu. Ah, kalian tak akan menyaksikan bagaimana aku melihat surga itu.

Dan pada akhirnya memang campur tangan tuhan yang membawa ku kembali kepada tulang rusuk ku. Memang ketentuan tuhan tidak dapat di tolak siapapun.

***

THE END

Risalah Hati

Ini adalah angin, angin yang mengerti aku tanpa adanya syarat dan ketentuan. Aku dapat bercerita apapun padanya. Menumpahkan semua keluhku yang sesak di dalam dada ini. Keluh yang sering kali tertahan oleh diri mu. Bingung, itu yang selalu ku rasakan, aku takut akan menyinggung mu atau menyakiti perasaaan mu ketika aku mengungkapkan perbedaan ini. Dan ini sangat menyiksa ku. Kita selalu berbeda di sisi manapun, awalnya ku fikir perbedaan itu indah. Karena kita dapat mengisi satu sama lain. Tapi itu sangat keliru. Semakin kita paksakan unuk menjalanni kisah ini, semakin aku merasa kau mulai menjauh

****

 

Ini sudah kesekian kali nya kau membuatku menunngu. Kau paksa aku untuk selalu bergumul dengan waktu. Kulihat jam tangan ku, ini sudah hampir melewati jam malam yang telah di tentukan oleh ayahku. Tapi aku tak juga melhatmu muncul untuk melemparkan senyum. Senyum ? tidak kau tak pernah melakukan itu untukku. Akhir nya kuputuskan untuk sudahi proses yang sangat menyebalkan ini. Mungkin kau melupakan janji malam ini. Aku sudah memaklumi ini karena ini bukan yang pertama kali. Ku lewati aspal yang hitam pekat ini di hiasi oleh garis putih yang monotone. Membuatku semakin jengkel dengan “CINTA” ini.
Aku merasa di permainkan olehmu. Meskipun aku menyadarinya tapi tetap saja, aku selalu kembali pada mu. Padamu yang tak pernah  ada gairah untuk menjalani cinta ini.

Kau selalu menganggapku sebagai penghalang. Selalu menolak ku dengan keheningan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir manismu. Kau selalu menyalahkan apa yang ku perbuat. Kau tak pernah mau tau tentang apa yang sedang ku rasakan. Kau selalu dengan duniamu, tak pernah menganggapku ada. Ini sangat menyakitkan untuk ku. Kau membuat ku seperti boneka untuk luapan perasaan mu yang datar. Aku tak pernah bisa tau apa yang ada difikiranmu. Ku hanya bisa melihat benang kusut dalam tatapan mu ketika kau melihatku. Seolah aku parasit dalam duniamu.
Terkadang aku bertanya pada diriku “Apa aku salah mempertahankan cintaku?” meskipun kau tak pernah membalasnya. Tapi apa guna kau meminangku saat itu? Entahlah aku juga tidak mengerti akan sikap dinginmu kepadaku. Yang terpenting aku sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Setidaknya aku sudah mencobanya.
Apa mungkin aku ini hanya pelarian mu? Tapi pelarian yang seperti apa yang kau perbuat. Aku merasa terpenjara dalam warna abu-abu cinta kita. Merasa terpasung dalam nanar yang kau tunjukkan kepadaku.

Jika aku bertanya apa yang terjadi padamu, kau hanya menjawab seperlu nya. Membuatku semakin frustasi menghadapi dirimu.
Menambah tanda “TANYA” besar didalam memori otakku dan itu sangat menjengkelkan.

Aku mulai lelah dengan “jalan cerita” ini. Aku lelah untuk meyakinkan kamu. Ini sama saja mengharap kan batu es menjadi berlian. Apa aku salah? Ku rasa tidak, aku hanya ingin menagih janji mu sewaktu kau meminangku di hadapan para pasir pantai dan cahaya matahari.
Aku hanya meminta tanggung jawabmu sebagai imamku. Karena aku telah memberikan separuh nyawaku kepadamu. Apa itu tidak cukup? Atau malah belebihan?

Dan pada akhirnya aku masih menunggumu, menunggu kau bicara. Membagi semua beban di pundakku. Meskipun aku tau itu akan  memakan waktu yang lama. Terkadang aku sangat iri kepada pasangan lain, yang selalu berbagi cerita, saling menguatkan di saat dalam keadaan ringkih, memberikan dadanya untuk bersandar. Sungguh indah rasanya.

****

 

Aku selalu menghabiskan malam dalam kebisuan. Melihatmu tidur pulas, hanya itu yang bisa ku lakukan ketika aku merindukann mu. Entah dosa apa yang kulakukan padamu sehingga kau seperti ini. Selalu kesepian yang menemani ku di saat kau sangat jauh dariku.

Ku harap kau akan segera mengerti, Karena aku sangat tersiksa melihat keadaan kita yang seperti ini. Aku ingin melihat imamku yang dulu menuntunku. Selalu hangat di setiap kesempatan, menenagkan ku di setiap kegalauan yang menerpaku. Apa begitu sulit untukmu untuk kembali?

MERASA PINTAR’ Atau ‘PINTAR MERASA’ Kah Kita ???

“Memang paling mudah mengambil sikap ‘tak peduli’. Tapi, ingatlah… sebagian besar masalah di dunia ini berakar dari KETIDAKPEDULIAN.”

– Dee DayDreamer –

 


 

 

Seperti biasa, di Minggu pagi ini aku menjalani kunjungan rutin mingguanku ke Pasar Kaget di sekitar kawasan Telkom Japati dan Lapangan Gasibu di Kota Bandung.

Tak seperti biasanya, pagi ini pelipisku terasa berdenyut-denyut, pandangan serasa berputar, dan nadiku berdetak tak karuan. Ahh.. si Agorafobia datang menyerang lagi. Aku hanya bisa menunduk pasrah untuk menjauhkan pandanganku dari keramaian, sambil mempercepat langkah agar dapat segera keluar dari situasi-kondisi ini.

Namun tampaknya bukan hanya si Agorafobia yang bertanggungjawab kali ini. Entah mengapa pagi ini pikiranku seolah dipaksa untuk terus berputar kencang sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pasar Kaget. Mataku seolah dipaksa untuk terbuka lebar melihat dan mengamati dengan lebih seksama segala keadaan maupun peristiwa yang terjadi, yang mungkin selama ini tak mendapatkan perhatian dan terlewatkan.

Telinga ini tiba-tiba terasa menyakitkan saat mendengar ocehan orang-orang yang sibuk bicara dan bicara… Semua orang berusaha untuk mengeluarkan suara yang lebih keras mengalahkan suara lawan bicaranya. Mereka berteriak-teriak… dengan volume serta frekuensi gelombang suara yang nyaring, cempreng, dan memekakkan telinga. Hey… apakah di antara mereka tidak ada yang merasa terganggu dengan suara-suara annoying yang mereka keluarkan itu??! Jangan-jangan telinga mereka memang tidak mendengar keributan yang sedang mereka hasilkan..! Everybody’s busy talking, but noone’s listening…!!!

Ahh.. Tak hanya mata dan telingaku yang dipaksa bekerja lebih keras. Otakku pun turut berpikir keras… membuat buncahan perasaan di hatiku ikut menyesakkan dada.

Saat menyaksikan Ibu-Ibu yang nggak kira-kira, tanpa tedeng aling-aling, memaksakan kehendaknya agar si Mamang Penjual Sayur menurunkan harga sayur-mayur yang dijualnya, si Mamang pun dengan pasrah namun berat hati menyerah pada Ibu-Ibu ngotot tadi dan memberikan harga yang dikehendakinya. “Yah.. daripada barang jualan saya tidak laku terjual”… Begitulah kira-kira kalimat perkataan si Mamang yang tersirat di wajah letihnya.

Haduh… hatiku miris rasanya melihat adegan itu. Yah, menawar harga dalam urusan jual-beli memang wajar-wajar saja dan bahkan tidak dilarang. Tapi, mbok ya kira-kira kalo menawar harga, Ibu-Ibu tercinta… Berapa sih keuntungan yang didapatkan oleh seorang penjual sayur??? Belum tentu pula semua barang dagangannya laku terjual hari itu… Bagaimana beliau bisa menghidupi keluarganya jika setiap berjualan sayur dirinya harus menanggung kerugian akibat barang yang tak habis terjual, apalagi ditambah dengan “discount” yang memangkas besarnya keuntungan yang seharusnya beliau dapatkan???

Masih banyak sebenarnya perilaku orang-orang di tengah keramaian Pasar Kaget yang membuatku berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala. Ahh.. namun jika aku mengingat-ngingat lagi dan menceritakan semuanya di sini, bisa-bisa tambah berdenyut dan semakin pusing kepala ini.

Namun sesungguhnya, tidak ada permasalahan baru dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi hari ini. Jika saja kita mau membuka mata dan telinga lebih lebar… Jika saja kita belajar untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara… Seandainya saja kita menajamkan kemampuan akal kita untuk berpikir dan hati kita untuk merasa… Dan seandainya saja kita dapat meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap sesama… Maka niscaya dunia ini akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dihuni.

Kebanyakan dari kita itu ‘merasa pintar, tapi tidak pintar merasa’. Begitulah kira-kira kalimat yang saya kutip dari sebuah ceramah oleh KH. Zainuddin MZ. Dan termasuk golongan yang manakah kita…??? Biar hati kita yang menjawabnya…

 

 

 

Dee DayDreamer – Bandung, 0702’10

NB: Tulisan ini bukanlah sebuah kritik sosial. Tapi, jika Anda (para Pembaca) menganggapnya demikian, maka itu adalah hak Anda. Dan seandainya tulisan ini memang merupakan sebuah kritik sosial, maka kritik ini tidak bermaksud saya tujukan kepada siapapun, KECUALI kepada diri saya sendiri…

 

Coutersy of http://daydreamer13.wordpress.com

Kiat Diet Sehat

 

cara mengecilkan perut

Cara diet sehat dengan cara mengecilkan perut merupakan hal yang wajib dan patut dilakukan untuk seseorang yang menginginkan berat badan turun dan perut menjadi ramping. Banyak manfaat diet sehat yang dapat dirasakan, baik itu dari segi kecantikan, kesehatan, bahlan sampai dengan segi psikologis. Perut ramping bagi seorang wanita adalah impian, karena dengan ramping semua jenis atau model pakaian dapat dipakai sesuai dengan keinginan. Tidak hanya itu saja, perut ramping bagi seorang wanita merupakan sesuatu hal yang dapat menambah kepercayaan diri sekaligus kecantikan. Bahkan bisa digunakan untuk mencari pasangan. Banyak pria yang mengingkan pasangan hidup nanti merupakan wanita yang mempunyai perut ramping sekaligus berat badan proporsional.

Cara Mengecilkan Perut Bagi Wanita

Pasti semua wanita di dunia ini inginkan langsing dan cantik. Semua cara dan pengorbanan akan dilakukan sekuat tenaga, bahkan ada wanita yang sampai rela untuk melakukan hal yang extrim hanya untuk mendapatkan perut langsing. Untuk mendapatkan tubuh langsing secara umum tidak mudah untuk dilakukan akan tetapi banyak wanita rela menahan lapar dan berolahraga berjam-jam. Diet yang baik bukanlah dengan cara berpuasa tapi juga pengaturan makanan berdasarkan umur dan aktivitas. Berikut beberapa tips yang dijamin membuat diet Anda lebih baik dan sehat. Adapun tips diet sehat antara lain sebagai berikut :

  1. Hindari pemikiran semua atau tidak sama sekali. Berpuasa bukanlah cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Makanlah secukupnya dan atur asupan kalori secara bijaksana.
  2. Potonglah buah-buahan yang Anda suka dalam potongan kecil untuk menggantikan snack yang tidak sehat.
  3. Hindari memakan cemilan dari toples, anda akan tidak sadar berapa banyak yang telah masuk ke dalam mulut Anda. Taruhlah didalam piring atau cukup ambil segenggam.
  4. Jika Anda termasuk orang yang menyukai roti, pilihlah yang wholegrain.
  5. Hindari makanan yang mengandung lemak lebih dari 10 persen. Baca label informasi nutrisi di dalam kardus makanan.
  6. Catatlah makanan yang telah Anda santap selama 2 minggu. Percayalah Anda akan terkejut!
  7. Mentega memiliki kandungan lemak jenuh. Hindari atau ganti dengan yang rendah lemak.
  8. Bawalah botol air minum kemanapun Anda pergi. Dengan begitu Anda tidak akan terdehidrasi dan juga lebih sedikit kemungkinan untuk memilih minuman yang bersoda ataupun terlalu banyak gula.
  9. Cobalah detoxification, untuk mengeluarkan racun dalam tubuh Anda
  10. Snack baik bagi Anda untuk mencegah makan siang atau malam yang berlebihan.

Demikian sedikit informasi diet, semoga ini dapat bermanfaat bagi wanita yang mengidamkan perut langsing dengan cara mengecilkan perutnya. apuy